Pemda DIY Nilai Program MBG Belum Mendesak bagi Mahasiswa

Pemda DIY secara khusus menyoroti wacana perluasan program MBG hingga ke tingkat perguruan tinggi yang dinilai kurang tepat sasaran.

Tayang:
Tribun Jogja/R.Hanif Suryo Nugroho
Sekretaris Daerah (Sekda) DIY, Ni Made Dwipanti Indrayanti. 

Ringkasan Berita:
  • Pemda DIY mendorong pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) difokuskan pada perbaikan sistem dan peningkatan kualitas
  • Wacana perluasan program MBG hingga ke tingkat perguruan tinggi dinilai kurang tepat sasaran.
  • Untuk tingkat mahasiswa, Pemda DIY memandang pemberian MBG tidak lagi menjadi urgensi.

 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Pemda DIY mendorong pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) difokuskan pada perbaikan sistem dan peningkatan kualitas, alih-alih melebarkan jaringan sasaran penerima.

Pemda DIY juga secara khusus menyoroti wacana perluasan program MBG hingga ke tingkat perguruan tinggi yang dinilai kurang tepat sasaran.

Sekretaris Daerah (Sekda) DIY, Ni Made Dwipanti Indrayanti, menyampaikan pengelola program sebaiknya tidak memecah konsentrasi dengan menambah jumlah sasaran yang belum tentu membawa dampak baik.

Menurutnya, pemantapan ekosistem yang sudah ada serta terbangunnya kepercayaan (trust) publik adalah prioritas utama saat ini.

"Ini, kalau yang sudah ada di sini, ini sudah benar, sudah baik, ya monggo, begitu. Jangan sampai kemudian melebarkan jaringan, belum tentu itu menjadi sesuatu yang baik juga, begitu. Jadi kan konsentrasinya juga akan terpecah juga kalau masuk," kata Ni Made, Kamis (14/5/2026).

Ia menegaskan, esensi dari program ini harus dikembalikan pada kualitas pelaksanaannya.

"Jadi, ekosistem yang sekarang berjalan itu diperbaiki dulu, begitu ya. Jadi, bukan kita bicara masalah jumlah ya, tapi bicara masalah kualitas. Dan trust, kepercayaan itu penting," tegasnya.

Ingatkan Tujuan Awal

Terkait dengan wacana perluasan penerima MBG ke level perguruan tinggi, Ni Made mengingatkan kembali tujuan awal dari pembentukan program tersebut, yakni difokuskan untuk pencegahan dan penanganan tengkes (stunting).

Oleh karena itu, sasaran paling krusial berada di tingkat ibu hamil, ibu menyusui, balita, hingga anak usia PAUD dan SD.

Baca juga: Antisipasi Penularan Leptospirosis dan Hantavirus, Pemda DIY Perkuat Koordinasi dan Edukasi PHBS

Adapun untuk jenjang SMP dan SMA, pemberian makanan bergizi dinilai masih masuk akal untuk menunjang kecerdasan, meskipun secara fisik para siswa di jenjang tersebut dinilai sudah terbentuk.

"Kan kita bicara tujuan awal dari MBG itu apa? Memberikan makanan bergizi. Untuk apa, misalnya? Stunting. Stunting itu dari mana? Stunting itu dari ibu hamil, ibu menyusui. Kemudian balita, ya kan? Oke, PAUD, SD. Sebenarnya SMP, SMA itu mereka sudah terbentuk, begitu. Sudah terbentuk. Tapi enggak apa-apa kalau menurut kami, misalnya ya itu untuk memberikan asupan gizi. Oke, supaya dia lebih cerdas, misalnya," paparnya.

Tak Ada Urgensi

Sementara itu, untuk tingkat mahasiswa, Pemda DIY memandang pemberian MBG tidak lagi menjadi urgensi.

Mahasiswa dianggap memiliki otonomi lebih dan pilihan yang sangat luas untuk memenuhi kebutuhan pangannya sendiri.

Jika perguruan tinggi dilibatkan dalam program MBG, Ni Made membayangkan perannya bukanlah sebagai institusi yang mahasiswanya menerima bantuan makanan.

Melainkan kampus dilibatkan ke dalam sistem pengelolaan atau penyediaan gizi itu sendiri.

"Tapi kalau di level mahasiswa, aduh mahasiswa dikasih MBG, (padahal) mereka pilihannya banyak sekali,"pungkasnya. (*)

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved