Ketua BEM UGM Diteror

Prof Masduki Nilai Protes dari Ketua BEM UGM Berangkat dari Nurani, Harus Dibela

Tindakan tersebut merupakan kebebasan akademik yang ketika sekarang direpresi atau mendapat teror, seharusnya mendapatkan perlindungan

Tayang: | Diperbarui:
Penulis: Ahmad Syarifudin | Editor: Yoseph Hary W
Tribun Jogja/Christi Mahatma Wardhani
RENTETAN TEROR: Foto dok. Ketua BEM UGM, Tiyo Ardianto menyampaikan orasi dalam aksi Karaoke WNI Mumet yang digelar oleh Komunitas Suara Ibu Indonesia di Yogyakarta di Bundaran UGM, Jumat (13/2/2026). Tiyo mendapat rentetan teror setelah pengiriman surat Ironi Tanah Air ke UNICEF. 
Ringkasan Berita:
  • Ketua PSAD UII Prof Masduki menilai kritik dari Ketua BEM UGM terhadap kebijakan pemerintahan didasari nurani dan kondisi bangsa.
  • Ketika kemudian terjadi represi dan teror, menurutnya, menjadi test the water, apakah kampusnya membela
  • Represi itu bukan hal normal sehingga ia menilai harus dilawan dan perlawanan itu seharusnya muncul lebih awal dari kampusnya.
  • Ia mengapresiasi keberanian Ketua BEM UGM yang memberikan kritikan presiden bodoh karena dalam kasus tersebut ada persoalan struktural

 

TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Ketua Pusat Studi Agama dan Demokrasi (PSAD) Universitas Islam Indonesia (UII), Prof. Masduki menilai bahwa kritik yang disampaikan Ketua BEM UGM), Tiyo Ardianto terhadap kebijakan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto didasari oleh nurani dan kondisi bangsa. 

Menurutnya, tindakan tersebut merupakan kebebasan akademik yang ketika sekarang direpresi atau mendapat teror, seharusnya mendapatkan perlindungan dan pembelaan, terutama dari kampusnya. 

"Ketika kemudian ini terjadi represi, teror, ini juga menjadi test the water, apakah kampusnya memberikan pembelaan. Jadi saya ingin melihat dari sisi ini, selalu kami akan memahami sekaligus prihatin kritik dari akademisi, mahasiswa mengalami tekanan. Represi," kata Prof Masduki, Jumat (13/2026). 

Guru Besar dalam bidang Media Science dan Journalism ini mengatakan represi yang terjadi terhadap mahasiswa kritis sebenarnya sudah bisa diprediksi sejak awal. Skala represinya kemungkinan juga akan semakin meningkat.

Kampusnya harus membela

Ini bukan hal yang normal sehingga ia menilai harus dilawan. Tetapi perlawanan tersebut seharusnya muncul lebih awal dari kampusnya, yakni UGM. Lembaga pendidikan tinggi menurut dia seharusnya memberikan pembelaan kepada mahasiswanya.

"Karena yang disampaikan mahasiswa ini berangkat dari nurani mereka, sebagai warga negara. Kita juga merasakan hal yang sama," kata Prof Masduki

Ia mengungkapkan, kebijakan MBG yang memakan banyak anggaran pendidikan ternyata menimbulkan efek yang serius. Pendidikan yang seharusnya gratis namun tidak dirasakan oleh masyarakat. Contohnya adalah kasus yang terjadi di Ngada, NTT, yang mana ada anak mengakhiri hidupnya karena tidak sanggup membeli pulpen dan buku. 

Ironi di NTT tamparan keras

Peristiwa ini menjadi tamparan keras bagi negara yang seharusnya mencari solusi substantif dari akar permasalahan. Substansi persoalannya ada pada biaya pendidikan yang mahal yang kemudian tidak semua orang, terutama dari keluarga miskin bisa mengakses.

Masduki menilai ini berkaitan dengan efek tidak langsung dari pengalihan dana pendidikan ke program MBG. 

Masduki mengatakan apa yang disampaikan Ketua BEM UGM seharusnya menjadi vitamin. Masukan positif bagi pemerintah. 

"Perubahan kebijakan terutama yang hari ini menjadi perhatian banyak orang, bagaimana ceritanya anggaran pendidikan itu dialihkan semua ke makan bergizi, itu tidak rasional. Nah anak ini menjadi contoh korban tidak langsung dari kebijakan 'keliru' ini," ujar Masduki. 

Apresiasi keberanian Ketua BEM UGM

Karena itu, ia mengapresiasi keberanian Ketua BEM UGM, yang memberikan kritikan presiden bodoh ketika ada kasus anak yang terlantar dan harus meregang nyawa. Sebab, menurutnya dalam kasus tersebut ada persoalan yang bersifat struktural, di mana yang bertanggung jawab adalah presiden. 

"Keberanian ini seharusnya menjadi sentilan, senggolan, kenapa justru datang dari mahasiswa dan tidak dilakukan oleh dosen maupun akademisi UGM," ujar dia. 

Sebagaimana diketahui, Mahasiswa Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, Tiyo Ardianto mendapatkan teror setelah memprotes pemerintahan Presiden Prabowo Subianto yang gagal menjamin hak dasar anak karena tragedi seorang anak bunuh diri di Nusa Tenggara Timur. Ketua BEM UGM itu menerima pesan WhatsApp bernada ancaman penculikan dari nomor dengan kode Inggris empat hari setelah BEM mengkritik Prabowo. Selain ancaman penculikan, peneror juga mengirimkan pesan yang menuduh Tiyo sebagai agen asing dan mencari panggung.(*) 

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved