Peci Batik Karya Jardiyanto Kini Mendunia, Beromzet Ratusan Juta
Berawal dari pelatihan kain batik perca, Jardiyanto (51) sukses mengembangkan peci batik khas Jogokaryan hingga sekarang
Penulis: Christi Mahatma Wardhani | Editor: Hari Susmayanti
Ringkasan Berita:
- Jardiyanto memulai bisnis peci batik Jogokaryan dari pelatihan kain perca pada 2015, lalu menjadikannya produk unik yang diapresiasi mentor dan dijual via media sosial.
- Bisnis berkembang pesat, kini memiliki 48 karyawan, kapasitas produksi hingga ribuan peci per kontainer, serta menembus pasar internasional.
- Produk terus berinovasi dengan 84 motif dan outer senada; harga peci Rp100–200 ribu, omset hingga ratusan juta, termasuk meningkat saat pandemi sebagai suvenir Lebaran.
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Berawal dari pelatihan kain batik perca, Jardiyanto (51) sukses mengembangkan peci batik khas Jogokaryan hingga sekarang.
Jardiyanto menuturkan sekitar tahun 2015 lalu, ia mengikuti pelatihan pemanfaatan perca batik oleh LPMK Mantrijeron. Ada 33 peserta yang mengikuti pelatihan tersebut, termasuk dirinya.
Setelah mengikuti pelatihan tiga hari, ia diminta untuk membuat produk fesyen. Peserta lain membuat sarung bantal, bando, sprei, dan lain-lain.
"Saya kan cowok sendiri, masa ikut-ikutan bikin bando, sarung bantal. Akhirnya kepikiran peci batik. Waktu itu belum ada peci batik, dulu bikin songkok. Kemudian kita nilaikan ke mentornya, akhirnya diapresiasi. Akhirnya saya diminta untuk menjadi mentor UMKM. Lalu saya tawari kerja, akhirnya dapat tiga orang yang ikut sampai sekarang," katanya saat ditemui, Senin (2/2/2026).
Kala itu, ia menjual peci batik melalui media sosial. Produknya yang unik pun semakin dikenal luas.
Sekitar tahun 2016, ada konsumen dari Belanda yang datang ke rumah produksinya di Jalan Suripto No 781C, Mantrijeron, Kota Yogyakarta.
Melihat potensi digital marketing, ia memfokuskan penjualan secara daring. Kapasitas produksinya semakin bertambah, dari 50 peci menjadi 100 peci per hari.
Permintaan yang semakin meningkat membuatnya harus menambah karyawan. Dari tiga karyawan, kini Jardiyanto memiliki 48 karyawan dari tim produksi hingga digital marketing.
Baca juga: Komite III DPD RI Inventarisasi RUU Perlindungan Konsumen di Yogyakarta
Ia pun melibatkan tetangga sekitar. Hampir 50 persen karyawannya merupakan warga sekitar Masjid Jogokaryan.
Saat awal perjalan bisnisnya, ia sempat mengalami kesulitan modal. Ia sempat mengambil beberapa pinjaman untuk kebutuhan operasional.
Awalnya ia mendapat pinjaman sebesar Rp 2 juta.
"Wah ini saya takut bisa bisa menggaji tidak ya, padahal tiap minggu gajian. Saya rekrut tiga karyawan. Akhirnya Rp 2 juta kurang. Lalu mengajukan lagi, pinjam Rp 10 juta. Lalu tambah karyawan jadi enam orang. Karena saat itu permintaan tinggi di Jogokaryan," terangnya.
Penguatan digital marketing membuat peci batik ini dikenal luas. Selain Belanda, produknya diminati di Malaysia, China, Australia, hingga beberapa negara Eropa.
Pada tahun 2018 atau 2019 lalu, ia mengirimkan lima kontainer ke Malaysia. Satu kontainer muat untuk 10 ribu peci songkok.
| Lega Sampai Akhir Tahun, Masyarakat dan Pengusaha Sempat Waswas Harga BBM Naik |
|
|---|
| Pedagang Jajanan di Jogja Sambat Harga Plastik Meroket, Untung Makin Tipis |
|
|---|
| Harga BBM Subsidi Stabil, Pelaku Usaha di Bantul: Lega, Tapi Tetap Harus Jaga-jaga, Berhitung Ulang |
|
|---|
| Sensus Ekonomi DIY Dimulai Mei 2026, Fokus Bidik Lonjakan Pelaku E-Commerce |
|
|---|
| Harga Plastik Melejit: UMKM di Sleman dan Yogyakarta Tercekik |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/Peci-Batik-Karya-Jardiyanto-Kini-Mendunia-Beromzet-Ratusan-Juta.jpg)