Ketika Bangku SD Menjadi Tempat Belajar dan Mengasuh
Siswa kelas 3 SD Negeri Gembongan, Kalurahan Sentolo, Kulon Progo itu hampir setiap hari datang ke sekolah tidak sendiri, melainkan membawa sang adik.
Penulis: Alexander Aprita | Editor: Hari Susmayanti
Rubiyanti adalah orang tua tunggal dengan 3 anak, yaitu Lea sebagai anak tertua dengan 2 adik laki-laki.
Menurut Hastuti, awalnya Rubiyanti meminta Lea untuk tinggal di rumah selama ia menjalani kemoterapi dari pagi hingga malam hari, namun ditolak.
"Lea menolak karena takut ketinggalan pelajaran di sekolah, sehingga ibunya akhirnya menghubungi saya," ujarnya.
Rubiyanti lalu meminta Lea diizinkan membawa salah satu adiknya ke sekolah selama ia menjalani kemoterapi. Hastuti memberikan izinnya dengan pertimbangan empati terhadap kondisi Rubiyanti.
Setiap hari, Lea mengajak adiknya pergi ke sekolah.
Biasanya, Lea bersepeda dari rumahnya yang berjarak sekitar 1 kilometer dari sekolah, ke rumah temannya untuk menitipkan sepedanya di sana.
Selanjutnya Lea, adiknya dan temannya itu melanjutkan perjalanan ke sekolah dengan diantar oleh orang tua temannya menggunakan sepeda motor.
Jarak rumah teman Lea dengan sekolah lebih dekat, bisa dijangkau dengan berjalan kaki.
"Kalau pas pulang sekolah, baru Lea dan adiknya jalan kaki ke rumah temannya, terus menaiki sepeda sambil membonceng adiknya sampai ke rumah," tutur Hastuti.
Sebagai kakak, Lea pun selalu mengemong atau menjaga adiknya selama berada di sekolah. Bahkan saat belajar di kelas atau mengikuti kegiatan Pramuka seperti hari ini.
Hastuti mengatakan adik Lea cukup pendiam, sesekali bermain di teras atau di lapangan saat bosan.
Para guru pun turut memberikan perhatian pada adik Lea selama berada di sekolah.
"Misalnya diberikan kegiatan mewarnai dan sebagainya agar tidak mudah bosan," katanya.
Hastuti mengatakan Lea merupakan pelajar yang cerdas secara akademis, terlihat dari nilai-nilainya yang selalu bagus sejak kelas 1.
Ia disebut memiliki kemauan belajar yang tinggi di tengah kondisi berat yang dihadapinya.
Apa yang dialami Lea pun diharapkan bisa menjadi teladan bagi teman-temannya yang lain. Terutama dalam menumbuhkan rasa kepedulian dan empati terhadap sesama yang sedang mengalami kesulitan dalam hidupnya.
"Secara tidak langsung Lea juga memberikan manfaat positif bagi teman-temannya," ujar Hastuti. (*)
| Kadinkes Kulon Progo Respons soal Adanya Suspek Hantavirus, Pastikan Nihil Kasus Positif |
|
|---|
| Pertama Kali ke DIY, Ipsos Indonesia Salurkan Bantuan ke Pelajar SLB PGRI Nanggulan Kulon Progo |
|
|---|
| Cerita Para Guru SLB Terkecil di Kulon Progo, Jadikan Mengajar ABK Sebagai Ibadah |
|
|---|
| DPRD Kulon Progo Minta Pemkab Upayakan agar Kebijakan Pusat Tidak Serta Merta Menghapus Guru non-ASN |
|
|---|
| Serangan Jantung, Satu Jemaah Haji Asal Kulon Progo Wafat di Makkah Arab Saudi |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/Kisah-Lea-Pelajar-SD-di-Kulon-Progo-Ngemong-Adiknya-ke-Sekolah-Lantaran-Ibunya-Jalani-Kemoterapi.jpg)