Ketika Bangku SD Menjadi Tempat Belajar dan Mengasuh

Siswa kelas 3 SD Negeri Gembongan, Kalurahan Sentolo, Kulon Progo itu hampir setiap hari datang ke sekolah tidak sendiri, melainkan membawa sang adik.

Tayang:
Penulis: Alexander Aprita | Editor: Hari Susmayanti
Tribun Jogja/Alexander Aprita
BERSAMA ADIK: Ralea menggandeng adiknya untuk pulang usai mengikuti pembelajaran di SDN Gembongan, Kapanewon Sentolo, Kulon Progo, Rabu (28/01/2026). 
Ringkasan Berita:
  • Ariendra Ralea (9), siswa kelas 3 SDN Gembongan, Kulon Progo, hampir setiap hari membawa adiknya ke sekolah karena sang ibu, Rubiyanti (36), orang tua tunggal, tengah menjalani kemoterapi kanker payudara.
  • Meski memikul tanggung jawab besar, Lea tetap semangat belajar, tidak terganggu dengan kehadiran adiknya.
  • Pihak sekolah memberi izin khusus atas dasar empati dan mendukung Lea, yang dikenal cerdas, berprestasi, serta menjadi teladan kepedulian bagi teman-temannya.
 

 

TRIBUNJOGJA.COM, KULON PROGO - Di antara riuh tawa anak-anak yang berlarian menuju kelas dengan tas dan bekal di punggung mereka, Ariendra Ralea (9) melangkah pelan sambil menggendong tanggung jawab yang jauh lebih besar dari usianya. 

Siswa kelas 3 SD Negeri Gembongan, Kalurahan Sentolo, Kapanewon Sentolo, Kulon Progo itu hampir setiap hari datang ke sekolah tidak sendiri, melainkan membawa sang adik.

Bukan tanpa alasan, di rumah, sang ibu, Rubiyanti (36) kini tengah berjuang melawan sakit kanker payudara yang dideritanya.

Sang ibu saat ini tengah menjalani kemoterapi untuk penyembuhan kanker payudaranya.

Rubiyanti merupakan orang tua tunggal dan sejak enam bulan terakhir menjalani kemoterapi di RSPAU Hardjolukito.

Kondisi sang ibu membuat Lea dipaksa untuk menjadi dewasa di usianya yang masih anak-anak.

Lea sendiri mengaku tidak terganggu dengan keberadaan adiknya selama di sekolah.

Sebaliknya, ia justru merasa senang ditemani adiknya selama mengikuti aktivitas pembelajaran.

Ia mengatakan ingin bercita-cita sebagai dokter saat sudah dewasa nanti. Bahkan sudah berangan-angan ingin mendirikan rumah sakit sendiri.

"Saya ingin bisa mengobati orang yang sedang sakit," kata Lea.

Baca juga: Kronologi Tabrakan Beruntun 6 Kendaraan di Jalan Magelang Tempel Sleman

Beruntung, pihak sekolah tidak mempermasalahkan Lea yang membawa adiknya ke sekolah setiap hari.

Kepala SDN Gembongan, Pri Hastuti Komarul mengatakan hampir setiap hari Ralea membawa adiknya ke sekolah.

"Awalnya cuma dibawa 2 kali seminggu, namun sekarang hampir setiap hari," kata Hastuti pada wartawan.

Menurut Hastuti, sekolah mengizinkan Lea membawa adiknya ke sekolah karena memang kondisi orang tuanya yang sedang sakit.

Rubiyanti adalah orang tua tunggal dengan 3 anak, yaitu Lea sebagai anak tertua dengan 2 adik laki-laki.

Menurut Hastuti, awalnya Rubiyanti meminta Lea untuk tinggal di rumah selama ia menjalani kemoterapi dari pagi hingga malam hari, namun ditolak.

"Lea menolak karena takut ketinggalan pelajaran di sekolah, sehingga ibunya akhirnya menghubungi saya," ujarnya.

Rubiyanti lalu meminta Lea diizinkan membawa salah satu adiknya ke sekolah selama ia menjalani kemoterapi. Hastuti memberikan izinnya dengan pertimbangan empati terhadap kondisi Rubiyanti.

Setiap hari, Lea mengajak adiknya pergi ke sekolah.

Biasanya, Lea bersepeda dari rumahnya yang berjarak sekitar 1 kilometer dari sekolah, ke rumah temannya untuk menitipkan sepedanya di sana.

Selanjutnya Lea, adiknya dan temannya itu melanjutkan perjalanan ke sekolah dengan diantar oleh orang tua temannya menggunakan sepeda motor.

Jarak rumah teman Lea dengan sekolah lebih dekat, bisa dijangkau dengan berjalan kaki.

"Kalau pas pulang sekolah, baru Lea dan adiknya jalan kaki ke rumah temannya, terus menaiki sepeda sambil membonceng adiknya sampai ke rumah," tutur Hastuti.

Sebagai kakak, Lea pun selalu mengemong atau menjaga adiknya selama berada di sekolah. Bahkan saat belajar di kelas atau mengikuti kegiatan Pramuka seperti hari ini.

Hastuti mengatakan adik Lea cukup pendiam, sesekali bermain di teras atau di lapangan saat bosan.

Para guru pun turut memberikan perhatian pada adik Lea selama berada di sekolah.

"Misalnya diberikan kegiatan mewarnai dan sebagainya agar tidak mudah bosan," katanya.

Hastuti mengatakan Lea merupakan pelajar yang cerdas secara akademis, terlihat dari nilai-nilainya yang selalu bagus sejak kelas 1.

Ia disebut memiliki kemauan belajar yang tinggi di tengah kondisi berat yang dihadapinya.

Apa yang dialami Lea pun diharapkan bisa menjadi teladan bagi teman-temannya yang lain. Terutama dalam menumbuhkan rasa kepedulian dan empati terhadap sesama yang sedang mengalami kesulitan dalam hidupnya.

"Secara tidak langsung Lea juga memberikan manfaat positif bagi teman-temannya," ujar Hastuti. (*)

 

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved