OCD Indonesia di Yogya Hajatan: Melayani Harus Didasarkan Pada Kekuatan Doa

Pada sore itu hujan deras tumpah di biara OCD Indonesia di Gadingan, Sleman, DI Yogyakarta.   

Tayang:
Editor: ribut raharjo
Istimewa/Istimewa
OCD Indonesia di Yogya Hajatan: Melayani Harus Didasarkan Pada Kekuatan Doa 

Di akhir homilinya, Mgr Rubiyatmoko memberikan resep ampuh dalam pelayanan yakni kesetiaan dalam perkara kecil. Tahbisan hari itu merupakan langkah penting menuju imamat. 

Namun para tertahbis diminta untuk tidak terburu-buru memikirkan yang besar dan megah. Kesetiaan dalam hal-hal kecil justru menjadi sekolah terbaik bagi seorang pelayan Tuhan. 

Kesetiaan dimulai dari doa harian, tugas sederhana, mendengarkan umat, hidup dalam kesunyian dan ketekunan. Dan kekuatan itu tidak lepas dari peran dan teladan Maria, sebagai Bunda Gereja. 

Sementara itu, dalam perayaan syukur pada sore hari itu, Rm. Irminus Liko OCD anggota Dewan Komisariat OCD Indonesia menegaskan ditahbiskan menjadi diakon tidak mengubah karakter apapun. 

Seorang frater diakon tetap saja seseorang dengan kelemahan dan kelebihannya. Tidak berubah, dan tidak perlu diubah. 

“Jika menjadi diakon, kemudian cara berjalannya berbeda, atau cara bicaranya berbeda, itu perlu dipertanyakan. Menjadi diakon itu tidak mengubah perilakunya sebagai manusia dengan segala kekuatan dan kelemahan, kekurangan ataupun kelebihannya. Ia sama saja,“ tegas Rm. Irminus Liko OCD. (*)

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved