OCD Indonesia di Yogya Hajatan: Melayani Harus Didasarkan Pada Kekuatan Doa

Pada sore itu hujan deras tumpah di biara OCD Indonesia di Gadingan, Sleman, DI Yogyakarta.   

Tayang:
Editor: ribut raharjo
Istimewa/Istimewa
OCD Indonesia di Yogya Hajatan: Melayani Harus Didasarkan Pada Kekuatan Doa 

TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Pada sore itu hujan deras tumpah di biara OCD Indonesia di Gadingan, Sleman, DI Yogyakarta.   

Meski demikian, cuaca yang tak bersahabat itu tidak menjadi penghambat bagi ratusan undangan datang ke biara ini.  

Para tamu undang terdiri dari umat Katolik setempat, para mitra OCD, masyarakat NTT di Yogyakarta dan puluhan suster dari berbagai kongregasi.

OCD Indonesia memang sedang ada hajatan. Yakni, syukuran atas tertahbiskan empat diakon dari ordo ini oleh Uskup Agung Semarang, Mgr.  Robertus Rubiyatmoko. Tahbisan Diakon – satu tahap menjelang pentahbisan sebagai imam dilaksanakan di Kapel Seminari Tinggi St. Paulus Kentungan, Senin (26/1/2026). 

Mereka yang tertahbiskan menjadi Diakon adalah 
Fr. Yanuarius Mere OCD, Fr.  Silvester Deu OCD, Fr.  Ferdianus Son OCD dan Fr.  Fortunatus Nikolaus Laku OCD.

Atas tertahbisnya empat diakon, biara OCD Indonesia di Yogyakarta mengadakan acara syukuran dan mohon doa restu agar perjalanan menuju imamat bagi keempat Diakon lancar, tanpa hambatan. 

OCD merupakan Ordo Karmel kuno untuk kembali ke semangat awal yang lebih ketat.

Dalam homilinya, Mgr Robertus Rubiyatmoko menegaskan bahwa hari itu adalah hari penuh syukur dan Gereja Katolik bersukacita karena Tuhan kembali memanggil, memilih, dan mengutus para pelayan-Nya. Dalam tahbisan diakon tersebut, tidak sedang dirayakan keberhasilan pribadi, bukan pula sebuah pencapaian akademik atau tahapan karier. 

Yang dirayakan adalah kesetiaan Allah yang terus bekerja di dalam Gereja-Nya.

“Para frater yang hari ini akan ditahbiskan menjadi diakon.Panggilan ini bukan lahir dari kehebatan pribadi, melainkan dari kasih Allah yang terlebih dahulu memanggil. Maka yang terutama bukanlah apa yang akan kalian lakukan, tetapi siapa yang kalian wakili: Kristus Sang Hamba. Menjadi diakon berarti bersedia berkata setiap hari - Aku diutus, bukan untuk diriku sendiri, tetapi untuk Gereja dan umat -,” tegas Mgr Rubiyatmoko.

Diurai lebih lanjut oleh Mgr Rubiyatmoko,  Diakon bukanlah Jabatan, Diakon adalah Sikap Hidup. Kata diakonia berarti pelayanan.Maka diakon bukan pertama-tama soal fungsi liturgis, tetapi sikap batin untuk siap sedia melayani sabda, altar, kaum kecil, lemah, dan tersingkir. 

Oleh karena itu, oleh Uskup Agung Semarang itu, para tertahbis diingatkan bahwa, pelayanan sejati tidak lahir dari kewenangan, tetapi dari kerendahan hati.

Sebagai akibatnya, bila suatu hari para tertahbis merasa lebih penting, lebih tahu, atau lebih berkuasa dari umat yang dilayani, di situlah panggilan diakonal mulai kehilangan rohnya. 

Pelayanan menuntut banyak hal: waktu, tenaga, pikiran dan, bahkan perasaan. 

“Pelayanan mendasarkan diri pada kekuatan doa. Oleh karena itu, khusus kepada para daikon yang baru saja ditahbiskan, saya ingatkan tanpa kehidupan doa yang mendalam, pelayanan akan menjadi kering dan melelahkan. Doa bukan pelengkap, melainkan napas hidup pelayanan.Hubungan pribadi dengan Kristus harus menjadi sumber daya rohani yang terus-menerus diperbarui,“ tegas Mgr Rubiyatmoko.

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved