Selain Ritual Budaya, Labuhan Merapi Juga Jadi Daya Tarik Wisata
Labuhan untuk memperingati Tingalan Dalem Jumenengan atau kenaikan takhta, Sri Sultan Hamengku Buwono X ini menjadi ritual budaya
Penulis: Ahmad Syarifudin | Editor: Yoseph Hary W
Ringkasan Berita:
- Labuhan Merapi Tahun Dal 1959/2026 memperingati Tingalan Dalem Jumenengan atau kenaikan takhta, Sri Sultan Hamengku Buwono X di Cangkringan, Sleman mampu menarik wisatawan.
- Upacara adat ini untuk memohon keberkahan hidup kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, sekaligus menjadi bagian dari kegiatan 'nguri-uri budaya' atau melestarikan budaya.
TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Di tengah alam yang sunyi, Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat kembali menyelenggarakan hajad dalem Labuhan Merapi Tahun Dal 1959/2026 di Cangkringan, Kabupaten Sleman.
Labuhan untuk memperingati Tingalan Dalem Jumenengan atau kenaikan takhta, Sri Sultan Hamengku Buwono X ini, selain menjadi ritual budaya juga menjadi magnet destinasi wisata budaya yang menarik antusiasme wisatawan setiap tahunnya.
Wakil Bupati Sleman, Danang Maharsa berkesempatan mengikuti prosesi upacara adat Labuhan Merapi pada tahun ini. Melihat tingginya antusias masyarakat, Danang bersyukur karena satu di antara Upacara Adat yang rutin diadakan di Sleman ini diminati oleh masyarakat dan wisatawan yang datang dari pelbagai daerah.
Menarik wisatawan
Ia berharap, semakin banyak orang yang dapat memahami dan memaknai Upacara Labuhan Merapi ini.
"Artinya labuhan ini selain sebagai ritual budaya, juga menarik perhatian menjadi obyek wisata. Tentu ini sangat istimewa bagi kami," kata Danang, seusai mengikuti Labuhan Merapi, Selasa (20/1/2026).
Labuhan Merapi merupakan upacara adat memperingati Tingalan Jumenengan Dalem Sri Sultan Hamengku Buwono X ke-38 tahun ini, sekaligus sebagai bentuk rasa syukur dan doa bagi keselamatan Raja Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat.
Setelah uborampe tiba dan diserahkan ke Juru Kunci Gunung Merapi di Petilasan Mbah Maridjan, prosesi labuhan dilanjutkan dengan membawa uborampe dari Petilasan Mbah Maridjan menuju Sri Manganti Hargo Merapi. Prosesi ini dilakukan dengan berjalan kaki dan penuh khidmat.
Setibanya di Sri Manganti, Labuhan dilanjutkan dengan ritual, doa, dan pembagian 'berkat' berupa nasi serta lauk pauk kepada masyarakat setempat. Termasuk kepada wisatawan yang turut menyaksikan prosesi Labuhan Merapi ini.
Memohon keberkahan
Menurut Danang, pelaksanaan upacara adat ini tak terlepas dari niat untuk memohon keberkahan hidup kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, sekaligus menjadi bagian dari kegiatan 'nguri-uri budaya' atau melestarikan budaya.
"Bagi orang Jawa ini menjadi suatu keyakinan untuk mendekatkan kita kepada alam, kepada yang Maha Kuasa. Kita sebagai makhluk ciptaan-Nya ini bisa saling bersatu, saling menjaga alam," ujarnya.
Pemerintah Kabupaten Sleman, melalui Dinas Kebudayaan dan Dinas Pariwisata, kata Danang, akan terus melakukan monitoring dan evaluasi untuk memastikan prosesi adat dapat berjalan sebagaimana semestinya.
"Harapan kami tentunya Labuhan ini selain menjadi ritual khusus, juga ke depannya dapat terus menjadi daya tarik bagi wisatawan, khususnya bagi yang ingin melihat secara langsung kegiatan budaya ini, sebagai bagian dari nguri-uri budaya di Sleman," kata Danang.
Diketahui, uborampe atau perlengkapan upacara adat Labuhan Merapi ini sehari sebelumnya dibawa oleh utusan Raja Keraton Ngayogyakarta ke Cangkringan dan diterima oleh Bupati Sleman, Harda Kiswaya di Kantor Kapanewon Cangkringan. Uborampe tersebut, oleh Bupati kemudian diserahkan ke Juru Kunci Gunung Merapi.
Harda mengaku mendukung pelaksanaan upacara adat Labuhan Merapi. Ritual adat tersebut, menurut dia, merupakan wujud rasa syukur masyarakat Yogyakarta kepada Tuhan.
"Acara Labuhan Merapi merupakan wujud rasa syukur masyarakat Yogyakarta kepada Tuhan Pencipta Alam, atas nikmat berupa kesuburan tanah, dijauhkan dari marabahaya, serta diberikan kesehatan dan keutamaan dalam hidup," ujar Harda.(*)
| Update Merapi : Awan Panas Meluncur 1,8 KM, Belasan Guguran Lava Mengarah ke Kali Bebeng |
|
|---|
| Update Merapi 6 Jam Terakhir: Guguran Lava Meluncur 2 Kilometer ke Arah Kali Boyong |
|
|---|
| Semalam, Gunung Merapi Luncurkan Guguran Lava Pijar Sebanyak 13 Kali ke Kali Boyong |
|
|---|
| Dalam 6 Jam Terakhir, Gunung Merapi Luncurkan Lava Pijar Sebanyak 17 Kali ke Kali Krasak |
|
|---|
| Gunung Merapi Luncurkan 20 Kali Guguran Lava ke Arah Kali Sat/Putih |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/Selain-Ritual-Budaya-Labuhan-Merapi-Juga-Jadi-Daya-Tarik-Wisata.jpg)