Gunung Merapi Luncurkan 20 Kali Guguran Lava ke Arah Kali Sat/Putih

Aktivitas vulkanik Gunung Merapi yang berada di perbatasan Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah kembali menunjukkan peningkatan.

Penulis: Hari Susmayanti | Editor: Hari Susmayanti
Istimewa/laman esdm go id
Ilustrasi map titik lokasi Gunung Merapi 

TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN – Aktivitas vulkanik Gunung Merapi yang berada di perbatasan Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah kembali menunjukkan peningkatan.

Dalam kurun waktu enam jam terakhir, terhitung mulai pukul 00.00 WIB-06.00 WIB, Gunung Merapi meluncurkan 20 kali guguran lava dengan jarak luncur maksimum mencapai 1.900 meter ke arah Kali Sat/Putih.

Sementara secara visual pada Senin (27/4/2026) pagi hari ini, gunung setinggi 2.968 mdpl ini terlihat jelas dengan asap kawah utama berwarna putih berintensitas tebal setinggi 50 meter di atas puncak.

Secara klimatologi, cuaca di sekitar puncak terpantau cerah hingga berawan dengan suhu udara berkisar antara 19.5-21.5°C.

Berdasarkan data dari kegempaan yang dikutip dari laman magma.esdm.go.id, selain guguran lava, aktivitas seismik Merapi juga masih tinggi. 

Tercatat 47 kali gempa guguran (durasi 68-174 detik), 22 kali gempa Hybrid/Fase Banyak, yang menunjukkan adanya suplai magma yang masih berlangsung ke permukaan, serta 1 kali gempa Tektonik Jauh.

Baca juga: Prakiraan Cuaca Senin 27 April 2026, Hujan Lebat Guyur Sleman dan Gunungkidul Utara

BPPTKG Yogyakarta menetapkan potensi bahaya saat ini berada pada sektor selatan-barat daya, meliputi Sungai Boyong (maksimal 5 km) serta Sungai Bedog, Krasak, dan Bebeng (maksimal 7 km).

Untuk sektor tenggara, ancaman mencakup Sungai Woro (3 km) dan Sungai Gendol (5 km).

BPPTKG mengimbau kepada masyarakat untuk tidak melakukan aktivitas apa pun di daerah potensi bahaya.

Mewaspadai bahaya lahar dingin dan awan panas guguran (APG), terutama saat terjadi hujan di puncak Merapi.

Mengantisipasi gangguan abu vulkanik dan mematuhi instruksi dari petugas di lapangan.

Hingga saat ini, suplai magma yang masih berlangsung dapat memicu terjadinya awan panas guguran sewaktu-waktu di dalam radius bahaya yang telah ditentukan. (*)

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved