JOGJA HARI INI : Dianiaya Saat Jalankan Misi Mulia

Penyelenggara flotilla mengeklaim terdapat sedikitnya 15 kasus kekerasan seksual, termasuk pemerkosaan, serta puluhan aktivis mengalami patah tulang

Tayang:
Penulis: HAS | Editor: Hari Susmayanti
Tribunnews/Jeprima
BERPELUKAN : Fotografer Republika Thody Badai yang tergabung dalam misi kemanusiaan Global Sumud Flotilla memeluk sang ibu saat tiba di Terminal 3, Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, Minggu (24/5/2026). 

Ringkasan Berita:
  • Sebanyak 422 aktivis kemanusiaan Global Sumud Flotilla dari 41 negara dideportasi Israel dan melaporkan penyiksaan fisik, penyetruman, hingga 15 kasus kekerasan seksual.
  • Berbagai negara Kanada, Jerman, Spanyol, dan Italia mengecam aksi tersebut. Uni Eropa bahkan membahas potensi sanksi bagi pejabat Israel atas pelanggaran hukum internasional ini.
  • Pihak layanan penjara Israel membantah seluruh tuduhan dan mengeklaim bahwa semua tahanan diperlakukan sesuai hukum serta hak dasar tetap dihormati.

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Ratusan aktivis kemanusiaan dari Global Sumud Flotilla (GSF) yang dideportasi oleh Israel melaporkan serangkaian dugaan penganiayaan berat, termasuk kekerasan seksual dan penyiksaan fisik, selama ditahan Israel.

Insiden ini memicu kecaman internasional dari berbagai negara. 

Penyelenggara flotilla mengeklaim terdapat sedikitnya 15 kasus kekerasan seksual, termasuk pemerkosaan, serta puluhan aktivis mengalami patah tulang akibat dipukuli.

Perlu diketahui, sebanyak 422 orang dari 41 negara dideportasi pada Kamis (23/5/2026) setelah kapal mereka dicegat oleh pasukan komando Israel di perairan internasional awal pekan ini.

Rahendro Herubowo, salah satu relawan Global Sumud Flotilla, mengaku mengalami kekerasan fisik, mulai dari dipukul hingga disetrum, saat ditahan tentara Israel di perairan Mediterania.

Pria yang akrab disapa Heru itu tiba di Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Minggu (24/5/2026), bersama delapan relawan warga negara Indonesia lainnya. 

Heru menceritakan, awalnya ia dibawa dari kapal Ozgurluk yang ditumpanginya menuju kapal milik Israel.

 "Jadi pertama kali kita diculik, kita dibawa ke kapal penjara ya, itu kapalnya lumayan besar. Nah, dari awal kita masuk itu kita sudah start awal kita mulai menghadapi penyiksaan," ujar Heru di Bandara Soekarno-Hatta, Minggu.

"Pertama kita ditelungkupkan, lalu tiba-tiba ada air mengalir sehingga badan kita basah kan. Nah terus, dari situ kita ke administrasi mereka, kita menyerahkan paspor, ditanya kapal apa yang sedang kita tumpangi," jelasnya. 

Setelah itu, para relawan WNI dan relawan dari berbagai negara diminta masuk ke sebuah ruangan transisi yang terbuat dari kontainer.

Di ruangan itulah, kata Heru, para tahanan mulai mengalami penyiksaan. 

Heru mengaku dipukuli di bagian kepala dan tubuh hingga terjatuh.

"Saya dipukul kepala, enggak tahu berapa kali. Terus badan depan, belakang, dan saya jatuh. Juga sempat diinjak. Terakhir saya disetrum sehingga akhirnya saya teriak cukup kencang, baru mereka akhirnya melepaskan," lanjut dia. 

Diborgol

Selain mengalami kekerasan fisik, Heru mengatakan para tahanan juga diborgol dengan sangat kencang. Tentara Israel juga sempat memainkan borgol yang mengikat tahanan.

Bahkan, ketika tahanan berjalan, ada tentara yang menendang hingga jatuh. 

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved