JOGJA HARI INI : Dianiaya Saat Jalankan Misi Mulia

Penyelenggara flotilla mengeklaim terdapat sedikitnya 15 kasus kekerasan seksual, termasuk pemerkosaan, serta puluhan aktivis mengalami patah tulang

Tayang:
Penulis: HAS | Editor: Hari Susmayanti
Tribunnews/Jeprima
BERPELUKAN : Fotografer Republika Thody Badai yang tergabung dalam misi kemanusiaan Global Sumud Flotilla memeluk sang ibu saat tiba di Terminal 3, Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, Minggu (24/5/2026). 

Dua warga Italia yang dideportasi pada Kamis (21/5/2026), Alessandro Mantovani, jurnalis surat kabar Il Fatto Quotidiano, dan Dario Carotenuto, anggota parlemen dari Gerakan Bintang Lima, juga menuturkan perlakuan yang mereka terima saat berada di Israel.

Mantovani mengatakan dirinya dipukuli oleh pasukan Israel setelah dibawa ke fasilitas penahanan yang terbuat dari kontainer. Dia menyebutnya "tempat teror".

Di bandara Istanbul, aktivis UK, Richard Johan Anderson, mengatakan kepada wartawan: "Kami dipukuli, disiksa, secara sistematis diperlakukan tidak manusiawi, dan... kami baru saja merasakan sedikit dari apa yang dialami rakyat Palestina setiap hari."

Pemerintah Kanada mengatakan telah menerima informasi yang merinci "perlakuan mengerikan" terhadap warganya.

Adapun pemerintah Jerman dan Spanyol mengonfirmasi bahwa sejumlah warga mereka mengalami cedera.

Pemerkosaan

Penyelenggara Global Sumud Flotilla melalui unggahan di Telegram menyebut sedikitnya terdapat 15 laporan dugaan kekerasan seksual, termasuk pemerkosaan.

"Setidaknya ada 15 kasus penyerangan seksual, termasuk pemerkosaan," tulis penyelenggara.

Mereka juga menyatakan sejumlah peserta mengalami luka akibat tembakan peluru karet dari jarak dekat, sementara puluhan lainnya dilaporkan mengalami patah tulang.

Koordinator Media Global Peace Convoy Indonesia (GPCI) Harfin Naqsyabandy mengungkap dugaan berbagai tindakan kekerasan yang dialami para delegasi Global Sumud Flotilla (GSF) dan Freedom Flotilla Coalition (FFC) selama menjalani penahanan di Israel.

Ia menjelaskan, selain kekerasan fisik, para delegasi juga disebut mengalami penghinaan, pelecehan, hingga dipaksa berada dalam posisi yang menyakitkan selama masa penahanan.

Harfin menambahkan, tim hukum Adalah menilai tindakan aparat Israel terhadap para aktivis kemanusiaan tersebut bertentangan dengan hukum internasional karena melibatkan intersepsi kapal di perairan internasional hingga penahanan terhadap warga sipil.

“Seluruh operasi intersepsi kapal di perairan internasional, penculikan sipil, penahanan sewenang-wenang, hingga tindakan kekerasan terhadap aktivis kemanusiaan merupakan pelanggaran serius terhadap hukum internasional,” kata dia.

Luca Poggi, ekonom asal Italia yang termasuk dalam rombongan aktivis, mengaku mengalami perlakuan kasar selama penahanan.

"Kami ditelanjangi, ditendang ke tanah. Banyak dari kami disetrum dengan alat kejut listrik, beberapa mengalami pelecehan seksual, dan beberapa dilarang mengakses pengacara," katanya kepada Reuters saat tiba di Roma.

Di sisi lain, Sabrina Charik yang membantu proses pemulangan 37 warga Prancis mengatakan lima peserta asal Prancis menjalani perawatan medis di Turki.

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 3/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved