Lipsus Sulitnya Cari Kerja
Lelah Kirim Lamaran Kerja dan Wawancara Sampai Menyerah
Salah satu universitas swasta di Yogyakarta, mengaku sudah mengirimkan lamaran ke berbagai perusahaan. Tak ada yang mau menerima.
Penulis: Tribun Jogja | Editor: Ikrob Didik Irawan
Dalam riset ini juga terungkap bahwa lebih banyak laki-laki putus asa mencari pekerjaan dibanding perempuan. Berdasarkan riset yang dilakukan pada 2025, persentasi laki-laki yang putus asa mencari pekerjaan sebesar 69 persen, sementa- ra perempuan 31 persen.
LPEM UI menilai fenomena tersebut menarik, sebab biasanya, perempuanlah yang lebih dominan tidak bekerja atau tidak mencari pekerjaan. Menurut para peneliti, keputusasaan itu terkait dengan beban laki-laki yang kerap kali diminta lebih menanggung beban keluarga.
“Tekanan norma gender ini menempatkan laki laki dalam posisi yang lebih rentan ketika proses pencarian kerja berulang kali gagal,” demikian tertulis dalam la- poran tersebut.
Meski demikian, fenomena itu umum di negara berkembang, seperti temuan International Labor Organization (ILO).
“Laki laki yang tersingkir dari pekerjaan formal sering mengalami penurunan motivasi pencarian kerja akibat kombinasi stagnasi upah, kompetisi yang semakin ketat, dan keterampilan yang tidak lagi cocok dengan struktur ekonomi yang berubah,” demikian laporan yang dirilis pada akhir November lalu tersebut.
Di Indonesia, sektor yang fokus pada tenaga kerja dengan keterampilan rendah yang jadi pintu masuk bagi tenaga kerja laki laki, seperti konstruksi, menghadapi tekanan permintaan yang berfluktuasi. Meski persen- tasenya lebih rendah, kepu- tusasaan perempuan juga patut jadi perhatian.
“Berbeda dengan laki laki, faktor discouragement pada perempuan sering bersinggungan dengan ke- terbatasan struktural yang sudah lama terbentuk, seperti kurangnya dukungan pengasuhan, norma sosial mengenai peran domestik, dan diskriminasi usia serta status perkawinan dalam proses rekrutmen,” demikian tertulis.
Perbedaan antara laki-laki dan perempuan menunjukkan bahwa sebab keputusasaan tidak cuma pasar kerja yang sulit dan keterampilan yang tidak sesuai, tetapi juga norma gender.
“Dari sudut pandang ke- bijakan, membaca pola ini penting agar intervensi tidak bersifat netral gender. Laki laki membutuhkan akses peningkatan keterampilan dan informasi pasar kerja yang lebih kuat, sedangkan perempuan membutuhkan dukungan transisi kerja yang lebih ramah kebutuhan pengasuhan dan bebas diskriminasi,” demikian tertulis dalam laporan tersebut.
Pengangguran tinggi Sebelumnya, Pusat Pasar Kerja Kementerian Ketena- gakerjaan (Kemenaker) men- catat setiap tahun ada 10,7 juta warga Indonesia yang membutuhkan pekerjaan.
Kepala Pusat Kerja Kemenaker, Surya Lukita, mengatakan bahwa angka tersebut berasal dari jumlah lulusan baru yang masuk ke pasar kerja dan warga Indonesia yang menganggur.
“Pertumbuhan tenaga kerja di negara kita ini cukup besar. Jadi, tiap tahun itu 3,5 juta lulusan dari pendi- dikan, baik itu SMK, SMA, maupun universitas, masuk ke pasar kerja. Ini yang harus dicarikan pekerjaan,” ujar Surya dalam media briefing di Kantor Pusat Pasar Kerja Kemenaker di Jakarta, Jumat (26/9).
“Nah, berikutnya pengang- guran kita juga masih tinggi, walaupun secara persentase ini kan 4,8 persen, ya, katanya ini terendah sejak era reformasi. Cuma secara nominal angkanya itu masih di angka 7,2 juta orang menganggur,” lanjutnya.
Sehingga, jika diperhitungkan secara total, setiap tahunnya ada 10,7 juta warga Indonesia yang memerlukan pekerjaan. Oleh karenanya, isu peluang kerja selalu menjadi pembahasan di ting- kat nasional.
“Soalnya, 10 juta tiap tahun harus diopeni (diperha- tikan), dicarikan pekerjaan. Sebagaimana amanat dari UUD 1945, seluruh warga negara berhak atas pekerjaan dan penghasilan yang layak untuk penghidupan yang layak,” tuturnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/Pemkab-Magelang-Gelar-Job-Fair-Sediakan-4176-Lowongan-Kerja-Simak-Jadwal-dan-Lokasinya.jpg)