Lipsus Sulitnya Cari Kerja
Lelah Kirim Lamaran Kerja dan Wawancara Sampai Menyerah
Salah satu universitas swasta di Yogyakarta, mengaku sudah mengirimkan lamaran ke berbagai perusahaan. Tak ada yang mau menerima.
Penulis: Tribun Jogja | Editor: Ikrob Didik Irawan
TRIBUNJOGJA.COM - Putus asa mencari kerja lalu tidak bekerja menjadi fenomena pada 2025. Laporan Labor Market Brief dari Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI) menyebut fenomena ini perlu diperhatikan sebagai sinyal kebijakan yang penting.
Pada Februari 2025, terdapat 1,87 juta penduduk Indonesia yang tidak bekerja dan tidak mencari kerja karena putus asa, berdasarkan data Sakernas 2024–2025. Jumlah ini naik 11 persen dari Febru- ari 2024 yang berada di angka 1,68 juta orang.
Rina (27), lulusan salah satu universitas swasta di Yogyakarta, mengaku sudah mengirimkan lamaran ke berbagai perusahaan namun tak ada yang mau menerima.
“Awalnya saya optimistis, tapi lama-lama capek sendiri. Sudah kirim banyak lamaran, sempat ikut wa- wancara, tapi hasilnya nihil. Saya sekarang berhenti dulu, jujur saja sudah putus asa,” ujarnya, Rabu (10/12).
Kisah serupa dialami Wahyu (34), mantan tenaga kontrak di sebuah perusahaan swasta yang dua bulan tidak bekerja. Setelah kontraknya tidak diperpanjang, ia sempat mencoba berbagai pekerjaan serabutan.
Namun, persaingan yang ketat dan tuntutan kualifikasi yang semakin tinggi membuatnya memilih berhenti melamar.
“Kalau tidak ada pengalaman, nggak dilirik. Kalau umur lewat tiga pu- luh, makin susah. Akhirnya saya kerja apa saja harian,” tuturnya.
Baca juga: Ratusan Agenda Seni Budaya dan Tradisi Bakal Tersaji di Yogyakarta Sepanjang 2026 Mendatang
Warga Kalurahan Gadingsari, Kapanewon Sanden, Bantul berinisial Y mengaku sejak 2010 harus bekerja serabutan.
Untuk memenuhi kebutuhan hidup, ia memilih melaut atau ikut nelayan mencari ikan di kawasan laut selatan Bantul dan diselingi menjaga parkir.
“Jadi, dari dulu cuma ikut-ikut orang gitu. Ya, karena cari kerja susah, persyarat- annya banyak. Jadi, saya malas mencari kerjaan lagi,” kata laki-laki berusia 38 tahun itu, Rabu (10/12).
Terkait jumlah penghasilan per bulan, Y mengaku tak bisa membeberkannya. Akan tetapi, penghasilan dari kerja serabutan tersebut disebut- sebut cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
“Kalau penghasilan itu ya seadanya. Yang penting cukup untuk kebutuhan sehari-hari,” ucap Y.
Ia berharap kepada pemerintah dan perusahaan swasta agar persyaratan lowongan kerja tidak dibuat sulit dan pekerjaan yang di- berikan sesuai bobot dan ke- mampuan.
“Harapan ke pemerintah kalau bisa perba- nyak lapangan kerja. Karena kalau nganggur-nganggur gitu juga capek,” ujar dia.
Hilang kepercayaan
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/Pemkab-Magelang-Gelar-Job-Fair-Sediakan-4176-Lowongan-Kerja-Simak-Jadwal-dan-Lokasinya.jpg)