Lipsus Sulitnya Cari Kerja

Lelah Kirim Lamaran Kerja dan Wawancara Sampai Menyerah

Salah satu universitas swasta di Yogyakarta, mengaku sudah mengirimkan lamaran ke berbagai perusahaan. Tak ada yang mau menerima. 

Tayang:
Penulis: Tribun Jogja | Editor: Ikrob Didik Irawan
Tribunjogja.com / Yuwantoro Winduajie
ILUSTRASI : Pencari kerja padati gelaran job fair di Balai Latihan Kerja (BLK) Kabupaten Magelang pada Selasa (10/6/2025) 

Laporan Labor Market Brief menyebut bahwa “Lonjakan belasan persen dalam satu tahun menunjukkan bahwa ada segmen penduduk yang bergeser dari posisi ‘mencari kerja’ menjadi ‘menyerah’, yang berarti kehilangan kepercayaan terhadap peluang pasar kerja yang tersedia”. 

International Labour Orga- nization (ILO) menilai discouraged workers atau mereka yang putus asa dalam hal pekerjaan sebagai bagian dari labour underutilisation, yaitu kelompok yang ingin bekerja tetapi tidak terserap karena berbagai hambatan yang tidak selalu tercermin dalam angka pengangguran terbuka. 

ILO dan Bank Dunia juga memandang discouraged workers sebagai gejala dini rapuhnya dinamika permin- taan dan penawaran tenaga kerja. Fenomena ini memang bukan hanya terjadi di In- donesia. ILO mencatat pola serupa muncul di banyak negara berpendapatan menengah. 

Dalam Labor Market Brief disebutkan bahwa sejumlah lembaga pembangunan menemukan sulitnya mencari pekerjaan berkualitas di Indonesia.

“Laporan Bank Dunia tentang ‘Pathways to Middle Class Jobs’ menyim- pulkan bahwa dua pertiga pekerjaan di Indonesia masih berada pada pekerjaan berproduktivitas rendah dan mayoritas tenaga kerja hanya berpendidikan mene- ngah pertama atau lebih rendah,” demikian dijelaskan. 

Beberapa negara berkembang sudah berhasil memperkuat industri manufaktur berorientasi ekspor serta me- ngembangkan jasa modern. Namun Indonesia dinilai tertinggal dalam pencipta- an pekerjaan formal dengan produktivitas menengah. 

“Akibatnya, proses penca- rian kerja menjadi semakin kompetitif bagi pencari kerja yang pendidikannya rendah, pengalaman kerjanya minim, atau keterampilannya tidak sesuai dengan kebutuhan pekerjaan yang lebih modern,” penjelasan dalam laporan karya Muhammad Hanri, Ph.D. dan Nia Kurnia Sholihah, M.E. ini. 

Bank Dunia juga menyoroti lemahnya sistem in- formasi pasar kerja dan la- yanan penempatan kerja di Indonesia. Dampaknya, pencari kerja sering tidak memiliki informasi yang jelas tentang lowongan maupun keterampilan yang dibutuhkan. 

Karena itu, wajar bila sebagian warga yang sebelumnya aktif mencari pekerjaan kini merasa upaya mereka tidak realistis untuk dilanjutkan. 

Hambatan struktural 

Penduduk yang tidak bekerja dan tidak mencari kerja karena putus asa paling tinggi berasal dari kelompok berpendidikan SD atau tidak tamat SD, dengan proporsi mencapai 50,07 persen atau lebih dari separuh total ke- lompok putus asa. 

Angka ini menunjukkan bahwa bukan sekadar ku- rangnya lowongan pekerjaan, tetapi kelompok berpen- didikan rendah menghadapi hambatan struktural yang jauh lebih dalam.

“Mereka menghadapi kombinasi ke- terbatasan kemampuan dasar, akses yang lebih kecil terhadap informasi pasar kerja, dan peluang mobilitas naik yang sangat terbatas,” menurut Labor Market Brief. 

Di posisi berikutnya, lu- lusan SMP dan SMA ma- sing-masing mencatat 20,21 persen dan 17,29 persen. Menariknya, lulusan SMK justru lebih rendah, hanya 8,09 persen, atau setengah dari kelompok SMA.

Sementara lulusan Diploma tercatat 1,57 persen, lebih rendah dari lulusan S1 yang mencapai 2,42 persen. Adapun lulusan S2 dan S3 yang putus asa hingga tidak bekerja dan tidak mencari pekerjaan tercatat 0,35 per- sen. 

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 2/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved