Dari Murid Belum Lancar Baca hingga Gaji Minim, Beratnya Tugas Guru SMP di Yogyakarta

Kesejahteraan guru swasta masih jauh dari memadai, seperti dialami Amelita Tarigan, guru SMP Gotong Royong, Kota Yogyakarta.

Tayang:
Penulis: Hanif Suryo | Editor: Yoseph Hary W
Istimewa
NASIB GURU SWASTA: Guru SMP Gotong Royong, Amelita Tarigan, mengajar di salah satu ruang kelas sekolah tersebut. Dengan jumlah murid yang terbatas dan kondisi sarana yang sederhana, para guru tetap berupaya menjaga kualitas pembelajaran di tengah berbagai tekanan dan keterbatasan. 

“Jadi guru sekolah kami yang belum tersertifikasi hanya dapat gaji dari BOSDa sebesar Rp 400 ribu per bulan, mudah-mudahan bisa naik, katanya mau naik Rp 500 ribu,” jelasnya.

Keterbatasan dana yayasan dan terbatasnya dukungan pemerintah membuat sekolah swasta kecil kesulitan memberi upah layak bagi guru.

Selain mengajar dan beradaptasi dengan kebijakan, guru masih harus menghadapi dinamika hubungan dengan wali murid. Menurut Lita, beberapa orang tua enggan bekerja sama dan bahkan mendikte guru ketika anaknya bermasalah.

“Dukanya itu kalau bertemu wali murid yang susah diajak kerja sama. Ada wali murid, yang terlalu pintar berbicara, sok tahu, mendikte guru saat anaknya berbuat salah. Kami sebagai guru serba salah, kalau mau menghukum nanti bisa masuk ke ranah hukum, tapi kalau tidak dididik baik, mereka susah diajak belajar, jadi serba salah,” tandasnya.

Lita berharap pemerintah lebih mendengar suara guru lapangan. Kebijakan efisiensi dan perubahan kurikulum yang terus berganti dinilai justru menyulitkan sekolah kecil yang menampung siswa miskin dan berkemampuan akademis rendah.

Di Hari Guru ini, ia menegaskan bahwa yang dibutuhkan guru bukan hanya penghargaan seremonial, tetapi kebijakan yang stabil, dukungan yang nyata, dan kesejahteraan yang layak.

 

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved