Dari Murid Belum Lancar Baca hingga Gaji Minim, Beratnya Tugas Guru SMP di Yogyakarta

Kesejahteraan guru swasta masih jauh dari memadai, seperti dialami Amelita Tarigan, guru SMP Gotong Royong, Kota Yogyakarta.

Penulis: Hanif Suryo | Editor: Yoseph Hary W
Istimewa
NASIB GURU SWASTA: Guru SMP Gotong Royong, Amelita Tarigan, mengajar di salah satu ruang kelas sekolah tersebut. Dengan jumlah murid yang terbatas dan kondisi sarana yang sederhana, para guru tetap berupaya menjaga kualitas pembelajaran di tengah berbagai tekanan dan keterbatasan. 

Ringkasan Berita:
  • Cerita betapa beratnya tugas guru datang dari sosok guru swasta di Yogyakarta, Amelita Tarigan, guru SMP Gotong Royong.
  • Ia mengisahkan banyaknya tekanan, mulai dari perubahan Kurikulum Merdeka ke Kurikulum Mendalam, tantangan akademis siswa, pemanfaatan AI yang tidak tepat, dan kesejahteraan guru swasta yang jauh dari memadai.
  • Di Hari Guru, ia menegaskan yang dibutuhkan guru bukan hanya penghargaan seremonial, tetapi kebijakan stabil, dukungan nyata, dan kesejahteraan layak.

 

TRIBUNJOGJA.COM - Guru-guru di sekolah kecil terus menghadapi tekanan berlapis, mulai dari perubahan Kurikulum Merdeka ke Kurikulum Mendalam, tantangan akademis siswa, hingga pemanfaatan AI yang tidak tepat. 

Di tengah kondisi itu, kesejahteraan guru swasta masih jauh dari memadai, seperti dialami Amelita Tarigan, guru SMP Gotong Royong, Kota Yogyakarta.

Amelita, akrab disapa Lita, mengajar lebih dari 23 tahun sebagai guru Bahasa Inggris. Di peringatan Hari Guru tahun ini, ia tetap berusaha menampilkan optimisme meski berhadapan dengan masalah klasik yang tak kunjung selesai.

“Yang pasti kami tetap bersemangat ya meski banyak masalah, apa pun kondisinya. Apalagi momennya ini Hari Guru,” ujarnya, Selasa (25/11/2025).

Lita mengakui bahwa perubahan kebijakan pendidikan datang terlalu cepat. Pergeseran ke Kurikulum Mendalam, yang membawa konsep “memuliakan siswa”, menimbulkan perdebatan internal antarguru karena interpretasinya yang beragam.

“Ada beberapa guru yang menganggap memuliakan siswa itu malah sesuatu kemungkaran. Kadang-kadang interpretasi memuliakan itu yang membuat kita, lho kok dimuliakan. Akan tetapi bagi saya pribadi prinsipnya, anak itu juga partner kita. Kalau tidak ada siswa, kita juga tidak mungkin bisa bekerja ya,” paparnya.

Kebijakan tanpa kesiapan

Ia menilai, tanpa kesiapan yang matang, perubahan konsep pembelajaran justru membingungkan guru, terutama mereka yang bekerja di sekolah kecil dengan keterbatasan sarana.

Masalah lain muncul dari siswa yang kemampuan akademisnya jauh tertinggal. Di SMP Gotong Royong, jumlah murid hanya sekitar 13 orang, sebagian besar dari keluarga berpenghasilan rendah. Tidak sedikit siswa yang masih kesulitan membaca atau berhitung dasar.

“Kalau di tempat saya, kan rata-rata kemampuan akademisnya di bawah rata-rata. Ketika murid kesulitan membaca dan berhitung, guru dipaksa bekerja ekstra. Misalnya 9 tambah 6, mereka masih pakai jari pada sudah di tingkat SMP,” ungkapnya.

Kondisi itu memaksa guru mengulang materi dasar yang seharusnya diajarkan di SD, namun tetap harus mengejar target kurikulum SMP.

AI yang digadang-gadang sebagai alat bantu belajar justru menciptakan masalah baru. Menurut Lita, siswa sering menggunakan AI untuk menyelesaikan tugas instan tanpa memahami konsep.

“Misalnya ya, siswa kami minta membuat pantun, mereka cepat sekali membuatnya karena pakai AI, tapi saat saya tanya pantun itu apa, mereka tidak bisa jawab, ini miris sekali kan,” lanjutnya.

Ia menilai penggunaan AI tanpa literasi digital membuat siswa semakin bergantung pada teknologi dan kehilangan pemahaman dasar.

Keterbatasan dana yayasan

Meski telah mengabdi puluhan tahun, Lita sebagai Guru Tetap Yayasan (GTY) baru memperoleh pendapatan sekitar Rp 2 juta per bulan setelah menerima tunjangan profesi setahun terakhir. Kondisi guru lain bahkan lebih memprihatinkan.

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved