Kisah Inspiratif

Kisah Avis Haris dan Kedai Kopi Punk Ala Rich Yogya yang Sarat Filosofi

Punk Ala Rich pada akhirnya menjadi buah pikir dari pencarian kesejatian diri Avis.

Penulis: Tribun Jogja | Editor: Iwan Al Khasni
(MG Axel Sabina Rachel Rambing)
Arief Avicenna Haris (32) atau biasa dikenal Avis Haris di salah satu cabang kedai miliknya. Punk Ala Rich Clay Won Market, Demangan, Sleman, DIY. 

Ringkasan Berita:
  • Punk Ala Rich adalah kedai kopi di Yogyakarta yang viral karena konsepnya yang unik. Menggabungkan nuansa mistis, estetika Jawa kuno, dan aroma kopi.
  • Avis Haris (32), pendiri Punk Ala Rich, tumbuh besar di Sumatera Utara namun dekat dengan budaya Jawa.
  • Secara filosofis, Kedai ini bukan sekadar tempat ngopi, melainkan ruang bagi Gen Z dan tim internal mencari jati diri. 

 

TRIBUNJOGJA.COM -- Di sudut Yogyakarta yang tak biasa, berdiri sebuah kedai kopi yang tak sekadar menyajikan minuman berkafein.

Namanya Punk Ala Rich sebuah ruang yang viral karena atmosfernya yang tak lazim: mistis, artistik, dan sarat simbol Jawa kuno. 

Di balik aroma kopi yang menguat, ada nuansa spiritual yang menyusup pelan ke dalam setiap sudut ruangan, seolah mengajak pengunjung untuk merenung, bukan sekadar menyeruput.

Di balik konsep nyentrik itu, berdirilah sosok Avis Haris, pria berusia 32 tahun yang menjadi penggagas sekaligus jiwa dari Punk Ala Rich

Avis Harissedari kecil akrab dengan nilai-nilai budaya. 

Walaupun lahir dan besar di Sumatera Utara, dirinya justru banyak terpapar kebudayaan Jawa.

“Ayahku dulu ketua paguyuban atau komunitas Jawa di Sumatera. Jadi hampir tiap hari saya melihat dan mendengar mereka latihan gamelan serta seni-seni tradisional lain,” kenangnya.

Ia menempuh pendidikan di jurusan arsitektur pada salah satu kampus di bagian utara DIY, namun lebih banyak menghabiskan waktu di wilayah selatan, tempat berkumpul teman-teman seniman. 

Dari sanalah perjalanannya menuju “kopi mistis” yang sarat akan budaya lokal bermula, sebuah pertemuan antara seni, spiritualitas, dan rasa.

Avis pernah cukup lama mengabdikan diri pada salah satu seniman dan musisi kondang Indonesia, Sawung Jabo, yang dikenal pernah berada satu grup dengan Iwan Fals. 

Dari sosok tersebut, ia belajar banyak tentang seni dan budaya, lokalitas hingga mengenal spiritualitas.

“Aku merasa sudah menggeluti semua bentuk pertunjukan mulai dari pemain musik, orang belakang layar, tukang angkat-angkat, sampai akhirnya bisa menghasilkan pendapatan dari sana,” ujarnya.

Titik balik datang ketika ayahnya wafat. Ibunya menyampaikan pesan agar ia segera beralih karir.

“Ibuku saat itu masih beranggapan bahwa dunia seni itu kurang menjanjikan,”

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved