Alment Coffee: Dari Lantai Dua Balai Kalurahan, Warga Jagalan Belajar Berdaya
Alment Coffee bukan sekadar kedai kopi, namun juga menjadi simbol perubahan di Kalurahan Jagalan, Banguntapan, Bantul,
Penulis: Hanif Suryo | Editor: Hari Susmayanti
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Keistimewaan Yogyakarta tampak dalam hal-hal kecil yang menghidupkan warganya. Di lantai dua Balai Kalurahan Jagalan, ruang yang dulu sepi kini menjadi tempat perjumpaan hangat.
Alment Coffee lahir di sana, menggandeng semangat lokal untuk menumbuhkan daya bersama.
Alment Coffee bukan sekadar kedai kopi, namun juga menjadi simbol perubahan di Kalurahan Jagalan, Banguntapan, Bantul, wilayah kecil yang berhasil menafsirkan ulang Dana Keistimewaan (Danais) menjadi ruang ekonomi dan sosial yang produktif.
Di tempat itulah, setiap sore, aroma kopi berpadu dengan tawa anak muda yang baru belajar meracik espresso.
“Awalnya, kami berpikir bagaimana agar dana ini tidak hanya habis untuk kegiatan seremonial, tetapi bisa menjadi wadah yang berkelanjutan,” tutur Ressa Rahalita Meitasari, pengelola Alment Coffee.
" Dari situ muncul ide membuka kedai kopi di lantai dua gedung kalurahan yang sebelumnya belum termanfaatkan. Kami ingin tempat ini menjadi ruang produktif yang memberi manfaat bagi warga.”ucapnya.
Ressa mengisahkan, Alment Coffee resmi dibuka pada Oktober 2025 dengan konsep sederhana namun berjiwa sosial.
Ia mengelola kedai bersama tiga barista muda, seluruhnya warga Jagalan yang sebelumnya mengikuti pelatihan dasar barista.
“Kami ingin anak-anak muda punya keterampilan dan pengalaman kerja di sini. Jadi, Alment Coffee bukan cuma soal kopi, tapi juga pembelajaran dan pemberdayaan,” ujarnya.
Baca juga: Pemkot Yogyakarta Usulkan Pengembangan Embung Giwangan dengan Danais, Butuh Anggaran Rp2 Miliar
Kedai itu buka setiap hari pukul 15.00–23.00 WIB, menawarkan sejumlah menu khas seperti Jagalan Bliss dan Pandan Jawa bagi penikmat minuman non-kopi.
Semua peralatan barista, mulai dari espresso machine hingga cup sealer, merupakan hasil dukungan Dana Keistimewaan.
Menurut Ressa, sistem pengelolaan dilakukan secara transparan dengan skema bagi hasil.
“Dari laba bersih, 40 persen untuk pemerintah kalurahan dan 60 persen untuk pengelola. Skema ini mencakup biaya operasional dan pengembangan usaha, dan akan diatur melalui peraturan lurah,” katanya.
Berdampak nyata
Paniradya Pati Kaistimewan DIY, Aris Eko Nugroho, menilai inisiatif Kalurahan Jagalan ini sebagai contoh konkret pemanfaatan Danais yang kreatif dan berdampak nyata.
| Proses Pematangan Lahan Gedung Budaya Bantul Dimulai April Ini |
|
|---|
| Pengentasan Kemiskinan, Reformasi Kalurahan dan Lumbung Mataraman |
|
|---|
| Rest Area Taman Kuliner Pantai Sepanjang Diresmikan, Perkuat Citra Pariwisata Gunungkidul |
|
|---|
| BPBD Kulon Progo Usulkan Tambahan Pos Damkar di Kapanewon Temon Lewat Danais DIY |
|
|---|
| Setiap Kelurahan di Kota Yogyakarta Dapat Alokasi Rp100 Juta, Fokus Pengentasan Stunting |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/Alment-Coffee-Dari-Lantai-Dua-Balai-Kalurahan-Warga-Jagalan-Belajar-Berdaya.jpg)