DIY Jadi Tuan Rumah Konferensi Internasional Produsen Tekstil dan Pakaian Jadi dari 45 Negara

DIY dipilih karena memiliki kekuatan kekayaan warisan seni, kerajinan, dan kreativitas. Sebab DIY mampu mempertemukan tradisi dan inovasi.

Tribunjogja/ Christi Mahatma Wardhani
Konferensi pers ITMF Annial Conference dan IAF Fashion Convention 2025 di Hotel Royal Ambarrukmo Yogyakarta, Rabu (22/10/2025). 

Laporan Reporter Tribun Jogja Christi Mahatma Wardhani

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA- Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menjadi tuan rumah (International Textile Manufacturers Federation) ITMF Annual Conference dan International Apparel Federation (IAF) World Fashion Convention 2025.

Perhelatan internasional ini akan mempertemukan produsen tekstil dan pakaian jadi dari 45 negara di dunia. Tidak kurang dari 350 delegasi dalam dan luar negeri akan mengikuti konferensi internasional pada 24-25 Oktober 2025.

Direktur Eksekutif Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API), Danang Girindrawardana mengatakan DIY dipilih karena memiliki kekuatan kekayaan warisan seni, kerajinan, dan kreativitas. Sebab DIY mampu mempertemukan tradisi dan inovasi.

Danang menyebut Indonesia kini tengah menjadi perhatian dan harus menjadi pusat pertumbuhan tekstil dan garmen, fesyen di seluruh dunia. 

“Tujuan besar konferensi ini adalah sharing knowledge, 95 persen pembicara dari luar negeri. Kita bisa belajar bagaimana teman-teman di luar negeri menggunakan teknologi baru, mengurangi eksternalitas limbah, melakukan efisiensi energi,” katanya dalam konferensi pers, Rabu (22/10/2025).

“Yang tidak kalah penting adalah kolaborasi. Memastikan Indonesia menjadi bagian dari supply chain tekstil dan garmen internasional. Indonesia tidak boleh sendiri, harus menjadi supply chain internasional,” sambungnya.

Ia menerangkan selama ini Indonesia berada di urutan 12 hingga 15 eksportir tekstil dan garmen dunia. Melalui perhelatan ini, Indonesia diharapkan menjadi 10 besar eksportir tekstil dan garmen dunia.

Untuk itu, kapasitas produksi dalam negeri harus lebih tinggi. Agar kapasitas produksi tinggi, dibutuhkan lebih banyak mitra luar negeri yang membeli produk Indonesia.

“Sehingga kita membutuhkan dukungan pemerintah untuk reformasi kebijakan yang bersahabat pada industri padat karya,” terangnya.

Wakil Ketua API DIY, Timotius Apriyanto menambahkan tema konferensi yang diusung pun relevan dengan kondisi terkini, yaitu 
“Navigating Uncertainty and Adopting Technology Pathways to Sustainable Strength in the Textile and Apparel Industry”.

Topik tersebut akan menjadi pelajaran penting bagi industri tekstil dan fesyen untuk mampu bertahan dari kemajuan teknologi robot yang cenderung meninggalkan tenaga kerja manusia. Padahal industri tekstil dan fesyen dikenal sebagai industri padat karya.

"Tujuan penting dari perhelatan internasional ini adalah keterkaitan dunia industri tekstil dan fashion dalam hal pembelajaran dan kolaborasi. Indonesia adalah bagian dari mata rantai tekstil dan fashion dunia, Pemahaman ini adalah kekuatan industri dari padat karya yang perlu kita jaga keberlangsungannya," imbuhnya. (maw) 

 

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved