Ngobrol Parlemen
Tangkal Dampak Negatif Disrupsi Digital, DIY Implementasikan Pendidikan Khas Kejogjaan di Sekolah
Stevanus menekankan filosofi lokal, seperti Sawiji, Greget, Sengguh, Ora Mingkuh, harus dikontekstualisasikan menjadi fondasi edukasi siswa
Penulis: Hanif Suryo | Editor: Yoseph Hary W
Ringkasan Berita:
- Pemda DIY dan DPRD DIY menguatkan Pendidikan Khas Kejogjaan untuk menangkal degradasi moral generasi muda di era digital.
- Nilai filosofi Jawa seperti Sawiji, Greget, Sengguh, dan Ora Mingkuh didorong menjadi dasar karakter siswa di dunia nyata maupun digital.
- Pendidikan Khas Kejogjaan diterapkan melalui penyisipan nilai budaya ke semua mata pelajaran tanpa menambah mapel baru.
- Danais DIY juga digunakan untuk mendukung pemerataan teknologi sekaligus mencegah kesenjangan digital di desa.
Â
TRIBUNJOGJA.COM - Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) bersama DPRD DIY menggenjot implementasi Pendidikan Khas Kejogjaan (PKJ) di seluruh jenjang pendidikan sekolah. Langkah strategis ini diambil sebagai instrumen mitigasi untuk menangkal degradasi moral generasi muda di tengah pusaran disrupsi teknologi dan globalisasi yang kian masif.
Hal tersebut mengemuka dalam diskusi "Ngobrol Parlemen" bertajuk Pendidikan Khas Kejogjaan: Kearifan Lokal di Tengah Disrupsi Teknologi, Senin (11/5/2026).Â
Diskusi ini menghadirkan Anggota Komisi A DPRD DIY sekaligus pakar transformasi digital, Dr. R. Stevanus C. Handoko, S.Kom., M.M., dan Paniradya Kaistimewan DIY, Kurniawan, S.Sos., S.E., Akt., M.Ec.Dev.
Tekankan filosofi lokal
Stevanus menekankan bahwa filosofi lokal, seperti Sawiji, Greget, Sengguh, Ora Mingkuh, harus dikontekstualisasikan menjadi fondasi edukasi siswa, baik di dunia nyata maupun di ruang digital.Â
Kemampuan literasi dan karakter yang kuat dibutuhkan agar generasi muda terhindar dari perilaku nir-etika hingga kejahatan siber.
"Meskipun kita saat ini berada di era globalisasi, di tengah pesatnya perkembangan teknologi dan banjir informasi di dunia digital, perlu disadari bahwa hal tersebut akan memengaruhi berbagai pihak, termasuk anak-anak sekolah kita. Jadi, kita perlu mendorong mereka untuk memahami bahwa ada berbagai macam falsafah dan filosofi di Jogja yang harus menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Hal ini berlaku tidak hanya di dunia nyata, tetapi juga di dunia digital, di mana banyak siswa kita berinteraksi secara aktif," papar Stevanus.
Soroti hilangnya identitas kultural, perlu pemahaman budaya
Ia menyoroti bahwa hilangnya identitas kultural dapat melahirkan apa yang kerap disebut sebagai Strawberry Generation—generasi yang memiliki kemampuan kognitif dan teknis, namun bermental rapuh dan mudah menyerah menghadapi tekanan kompetisi.
"Solusinya adalah memperdalam pemahaman tentang kebudayaan sendiri. Identifikasi nilai-nilai lokal mana yang relevan dan bisa memberikan nilai tambah bagi kita dibandingkan masyarakat wilayah lain. Saat ini ramai istilah Sandwich Generation atau Strawberry Generation yang merujuk pada mentalitas rapuh generasi muda. Kalau kita kembali ke akar budaya Jawa, semangat pantang menyerah leluhur kita tidak mengenal sifat cengeng seperti itu. Harapannya, generasi muda kita tidak terjebak dalam mental Strawberry Generation yang mudah patah semangat menghadapi kompetisi dunia nyata. Dengan kemudahan teknologi informasi saat ini, kemampuan berjuang generasi masa kini seharusnya berlipat ganda melebihi para pendahulu kita yang berjuang dalam keterbatasan," tegasnya.
Integrasi Lintas Mata Pelajaran
Menyikapi tantangan tersebut, Paniradya Kaistimewan DIY, Kurniawan, menjelaskan bahwa Pendidikan Khas Kejogjaan (PKJ) yang baru saja diluncurkan oleh Gubernur DIY tidak akan membebani siswa dengan mata pelajaran baru. PKJ didesain sebagai nilai yang disisipkan ke dalam seluruh mata pelajaran yang sudah ada.
Menurut Kurniawan, integrasi nilai-nilai keistimewaan ini memosisikan Dinas Pendidikan sebagai motor penggerak utama, sekaligus menjembatani kesenjangan nilai antara Generasi Z dan generasi pendahulunya.
"Sebetulnya penerapannya tidak perlu menunggu, karena PKJ bukanlah mata pelajaran baru, melainkan penyisipan kompetensi budaya pada setiap mata pelajaran yang sudah ada. Sebagai contoh, budi pekerti tidak hanya diajarkan di pelajaran IPS. Dalam ilmu IPA, kita bisa mengajarkan cara melestarikan dan mengharmonisasi hubungan antara manusia dengan alam. Titik tekannya bukan sekadar teori kognitif, melainkan implementasi dan praktiknya," ungkap Kurniawan.
Dukungan Danais
Lebih lanjut, Kurniawan menegaskan bahwa optimalisasi program ini didukung penuh oleh alokasi Dana Keistimewaan (Danais), yang tidak hanya menyasar pada kurikulum berbasis budaya, tetapi juga pemerataan akses digital.
"Tentu sangat mendukung dengan komitmen tinggi. Selain infrastruktur kurikulum dan silabus berbasis budaya, Dana Keistimewaan juga dialokasikan untuk pemerataan infrastruktur teknologi. Kami mendukung pembangunan jaringan serat optik (fiber optic) hingga ke pelosok desa untuk mencegah terjadinya kesenjangan digital (gap) antara perkotaan dan perdesaan," jelasnya.
Pada akhir diskusi, Stevanus kembali memberikan peringatan keras terkait konsekuensi jika pembangunan infrastruktur teknologi tidak dibarengi dengan penanaman nilai tata krama lokal. Keahlian teknologi tanpa landasan moral berpotensi menciptakan ruang kejahatan baru yang terstruktur.
"Akan sangat berbahaya. Salah satu dampaknya adalah penyalahgunaan kecerdasan buatan, seperti deepfake. Selain itu, akan marak pencurian aset-aset kekayaan intelektual (properti digital) milik orang lain yang diklaim sebagai milik pribadi, atau bahkan disalahgunakan untuk tindak penipuan. Kejahatan semacam itu bisa terjadi manakala seseorang memiliki keahlian teknis yang sangat mumpuni, tetapi sama sekali tidak dibentengi oleh karakter dan etika moral yang baik," pungkas Stevanus.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/Tangkal-Dampak-Negatif-Disrupsi-Digital-DIY-Implementasikan-Pendidikan-Khas-Kejogjaan-di-Sekolah.jpg)