Warga Jogja Resah Harga Telur Makin Tinggi, MBG Jadi Sorotan

Warga Daerah Istimewa Yogyakarta atau Jogja khawatir dan resah harga teluar akan terus naik.

Editor: Joko Widiyarso
TRIBUN JOGJA/AZKA RAMADHAN
WARGA JOGJA RESAH - Subur, seorang pedagang telur di Pasar Beringharjo, Kota Yogyakarta, saat ditemui di kiosnya, Senin (20/10/2025). Harga telur di pasaran Kota Yogyakarta naik menjadi Rp30.000 per kilogram. Warga Daerah Istimewa Yogyakarta atau Jogja khawatir dan resah harga teluar akan terus naik. 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Warga Daerah Istimewa Yogyakarta atau Jogja khawatir dan resah harga teluar akan terus naik.

Sebagai informasi, harga telur ayam di pasaran belakangan ini merangkak naik, bahkan tembus angka Rp30.000 per kilogram (kg). 

Lalu spekulasi bermunculan di tengah masyarakat, mengaitkannya dengan peningkatan permintaan secara nasional seiring adanya program makan bergizi gratis (MBG). 

Itu kian kuat, mengingat pada Jumat (17/10) lalu, ada momen Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) secara serentak menyediakan menu nasi goreng dan telur ceplok dalam rangka ulang tahun Presiden Prabowo Subianto. Nasi goreng telur ceplok disebut sebagai makanan favorit Prabowo.

Menurut data yang diperoleh Tribun Jogja di Pasar Beringharjo, Kota Yogyakarta, harga telur ayam ras memang sudah menembus angka Rp30.000 per kg. 

Ditemui di kiosnya di Pasar Beringharjo, Senin (20/10), Subur, pedagang telur, membenarkan tingginya harga komoditas tersebut.

"Sekarang sudah Rp30.000 (per kg), sekitar dua hari ini. Sebelumnya bahkan sampai Rp31.000. Ini cenderung turun, tapi enggak banyak," ujarnya.

Menurut Subur, harga ideal dan yang paling masuk akal untuk produk telur ayam ras di Kota Yogyakarta seharusnya berada di kisaran Rp27.000 per kg. 

Sayangnya, angka tersebut sudah jarang sekali tercapai dalam beberapa waktu terakhir, karena lebih dominan di atas Rp30.000. 

"Harganya naik turun terus, tapi sekarang jarang turunnya sampai segitu," tambahnya.

Subur mengaku tidak mengetahui  penyebab utama kenaikan harga telur ini dan enggan berspekulasi, lantaran dirinya hanya sebatas mengikuti tren pasar dari pemasoknya. 

Meski demikian, ia sempat mendengar informasi bahwa pasokan komoditas telur akhir-akhir ini cenderung lebih sulit, dan berdampak terhadap lonjakan harga. 

Yang terpenting baginya, lonjakan harga telur jangan sampai mempengaruhi antusiasme pembeli untuk berbelanja ragam komoditas di kiosnya.

Kondisi ini turut mengundang keresahan masyarakat, yang kini harus berhitung antara kebutuhan gizi dan isi dompet. 

Seorang konsumen di Pasar Beringharjo, Atmaja, mengaku terkejut dengan harga telur yang masih bertahan tinggi. 

Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved