Kisah Inspiratif

Cerita Seniman Lukis di Yogyakarta Dirikan Komunitas Difabel

Seni bukan sekadar ekspresi pribadi, melainkan bisa menjadi medium advokasi sekaligus edukasi.

Tayang:
Penulis: Tribun Jogja | Editor: Iwan Al Khasni
(MG Axel Sabina Rachel Rambing)
Sukri Budi Dharma (Butong) menunjukan salah satu karya lukisnya (22/09/2025). 

TRIBUNJOGJA.COM -- Nama aslinya  Sukri Budi Dharma (49) namun diakrab disapa Butong. Dia adala seniman dan aktivis Difabel sekaligus pengagas komunitas Difable and Friends Community hingga berkembang Jogja Disability Arts (JDA) 

JAUH sebelum itu, Sukri Budi Dharma sudah akrab dengan dunia gambar sejak belia. 

Ia gemar menyalin tokoh-tokoh karikatur dari rubrik cerita bergambar milik  media massa. 

Dia tak menyia-nyiakan bakat dan mengembangkannya dengan menempuh pendidikan di Institut Kesenian Jakarta (IKJ) jurusan Seni Murni.

Tidak berhenti disitu, pria yang sering disapa Butong ini melanjutkan pendidikannya di Universitas Gunadarma Depok, Jawa Barat, jurusan Psikologi. 

Meski begitu, awal perjalanan karirnya justru jauh dari dunia seni maupun psikologi.

Butong sapaan akrabnya, pernah bekerja di perusahaan developer, kargo, hingga agen travel. Namun, di tengah kesibukan itu, ia tetap setia menekuni hobi melukis.

Latar belakang pendidikan yaitu seni dan psikologi memang terlihat berseberangan.

Namun, justru disitulah titik awal perjuangan aktivisme Butong untuk seniman difabel.

Kreativitas artistik dan pemahaman mendalam tentang kondisi manusia dipadukan menjadi fondasi kuat untuk perjuangannya. 

Tahun 2009 setelah dua tahun menetap di Yogyakarta, Butong mendirikan sebuah komunitas bernama Difable and Friends Community

“Dari situ embrio gerakan aktivisme seni disabilitas ini berkembang,” tukas Butong Senin (22/09/2025).

Ia mulai mengembangkan gagasan bahwa seni bukan sekadar ekspresi pribadi, melainkan juga medium advokasi sekaligus edukasi.

Baginya, kanvas dapat menjadi ruang untuk menyuarakan pengalaman difabel yang kerap terpinggirkan. 

Melalui karya dan aktivitas komunitas, Ia berupaya membuka mata publik bahwa kesetaraan dalam seni adalah hak setiap orang, tanpa terkecuali.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved