Cerita Petani di Gunungkidul yang Merugi Akibat Cuaca Tak Menentu, Gaplek Membusuk dan Menghitam

Selain gaplek yang tak layak jual, kondisi petani di Gunungkidul makin diperparah dengan harga ketela yang juga anjlok.

Tribun Jogja/ Nanda Sagita Ginting
KUPAS KETELA - Petani di Gunungkidul sedang mengupas ketela yang baru dicabut dari akarnya, Rabu (6/8/2025) 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Nanda Sagita Ginting 

TRIBUNJOGJA.COM, GUNUNGKIDUL - Petani ketela di Padukuhan Petir C, Kalurahan Petir, Kabupaten Gunungkidul,
mengalami kerugian besar akibat cuaca yang tidak menentu.

Hasil panen ketela yang dijemur menjadi gaplek mengalami pembusukan menjadi berwarna kehitaman, yang biasa disebut warga lokal dengan istilah 'jembuten'.

Wardoyo, petani setempat mengatakan pembusukan itu terjadi karena hujan deras yang mengguyur berturut-turut saat proses penjemuran.

"Padahal saat menjemurnya itu cuaca sedang panas, tiba-tiba sorenya sudah hujan deras. Ketela basah, membusuk bahkan berlendir. Yang sudah dikupas dan dijemur untuk gaplek menghitam, bahkan sebagian mulai ditumbuhi spora," ujarnya sambil membersihkan sisa-sisa ketela yang membusuk tersebut, pada Rabu (6/8/2025).

Ia mengatakan kondisi gaplek yang sudah jembutan tersebut, tidak layak untuk dijual.

Selain bentuknya yang sudah rusak, aroma yang dikeluarkan juga tidak sedap lagi. 

"Kalau sudah begini, tidak laku tak ada yang mau beli. Pengepul tidak mau ambil. Ketela itu tak lagi layak jual, hanya menyisakan luka dan kerugian," ujarnya.

Selain gaplek yang tak layak jual, kondisi petani makin diperparah dengan harga ketela yang juga anjlok.

Padahal, momen ini seharusnya bisa dimanfaatkan petani untuk meraup untung lebih karena bertepatan dengan panen besar.

"Ketela hanya dihargai Rp500/ kilogram dari biasanya Rp1.500/kilogram. Harga gaplek pun sama  sekarang harganya cuma Rp1.500/per kilogram, padahal tahun lalu masih bisa dijual Rp 2.500.Jadi, kami ini kondisinya sudah jatuh tertimpa tangga lagi," paparnya sambil menghela nafas dalam.

Baca juga: Gunungkidul Gandeng Tiga Perguruan Tinggi untuk Percepatan Pembangunan Daerah

Sementara itu, Lurah Petir, Sarju Riyanto, membenarkan kondisi memprihatinkan itu.

Ia menyebut wilayah Kalurahan Petir memiliki potensi pertanian sangat luas.

Dari total wilayah sekitar 10.000 hektare, sekitar 70 persen masih berupa lahan pertanian aktif.

Namun karena sebagian berada di kawasan perbukitan dan lereng gunung, tidak semua area bisa dimanfaatkan optimal.

Halaman
12
Sumber: Tribun Jogja
Berita Terkait
  • Ikuti kami di
    AA

    Berita Terkini

    © 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved