Perang Kotor di Iran dan Keruntuhan Moral Israel-Amerika

Pada akhirnya meski diwarnai kebingungan, gencatan senjata Israel-Iran versi Trump menunjukkan buktinya. 

Tayang:
Penulis: Krisna Sumarga | Editor: Muhammad Fatoni
TRIBUNJOGJA.COM
Iran kembali menggempur Israel pada Selasa (24/6/2025) dini hari 

Iran memang kehilangan begitu banyak jenderal pentingnya, dan juga ilmuwan-ilmuwan yang terlibat program energi nuklir mereka. 

Pertanyaannya sekarang, apa yang bisa dibaca dari agresi cepat Israel ke Iran dan pemboman strategis oleh Amerika di Fordow, Natanz, dan Isfahan? 

Nadezhda Romanenko, analis politik di situs Russia Today menulis demikian, “Anda tidak bisa menghentikan program nuklir, dengan sengaja menargetkan keluarga. Anda hanya mengabaikan gagasan, segala sesuatu tidak boleh dilakukan.”

Kritiknya merujuk kasus ilmuwan nuklir Iran, Mostafa Sadati-Armaki yang tewas bersama anggota keluarganya.

Nyawa istri, dua putri serta putranya melayang dalam serangan udara ke rumah keluarga itu di Teheran.

Menurut Romanenko, ini bukan sekadar serangan presisi. Ini adalah eksekusi terhadap sebuah rumah tangga.

Sadati-Armaki bukanlah pejabat senior Iran. Ia adalah ilmuwan tingkat menengah—seorang insinyur yang bekerja dalam kerangka program nuklir Iran

Peran itu mungkin telah menjadikannya target dalam logika konflik modern versi Israel.

Namun, tidak ada, bahkan logika itu, yang dapat membenarkan pembunuhan terhadap anak-anaknya di rumah mereka sendiri.

Ini bukanlah peristiwa insidentil. Pada tanggal 13 Juni 2025, di hari pertama agresi,  sedikitnya lima ilmuwan nuklir Iran tewas.

Termasuk mantan Kepala Badan Atom Iran Dr Fereydoon Abbasi, Mohammad Mehdi Tehranchi, Abdolhamid Minouchehr, Ahmadreza Zolfaghari Daryani, dan Seyed Amir Hossein Feghhi. 

Kredensial mereka mengikat ilmuwan-ilmuwan itu pada program nuklir Iran.

Baca juga: Iran Beri Tahu AS Sebelum Serang Pangkalan Militer di Qatar, Ini Alasannya

Semua telah memainkan beberapa peran, teknis atau administratif, dalam pengembangan energi nuklir Iran.

Tidak ada satupun di antara mereka yang menjadi kombatan. Sebagian besar adalah akademisi. Beberapa telah pensiun dari jabatan negara.

Hal terpenting, mereka tidak sendirian. Dalam beberapa kasus yang dilaporkan, anggota keluarga tewas bersama mereka, istri, anak, orang tua, dan tetangga yanag tidak tahu apa-apa.

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 2/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved