Angka Lansia Naik, Pemda DIY Dorong Layanan Publik Inklusif

Keterlibatan lintas sektor, mulai dari pemerintah, masyarakat, dunia usaha, hingga komunitas lansia, menjadi kunci penting

Dok. Humas Pemda DIY
Wakil Gubernur DIY, KGPAA Paku Alam X. 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta (Pemda DIY) terus memperkuat komitmen menjadikan wilayahnya sebagai Kawasan Ramah Lansia.

Namun, upaya ini dinilai tak bisa berjalan sendiri.

Keterlibatan lintas sektor, mulai dari pemerintah, masyarakat, dunia usaha, hingga komunitas lansia, menjadi kunci penting untuk mewujudkan tujuan tersebut.

Wakil Gubernur DIY, KGPAA Paku Alam X menegaskan hal ini dalam pembukaan Seminar dan Lokakarya memperingati Hari Lanjut Usia Nasional (HLUN) 2025 yang digelar pada Rabu (28/5/2025) di Gedung Bapperida DIY.

Dalam acara yang diusung oleh Komisi Daerah (Komda) Lansia DIY bersama Yayasan Karinakas Yogyakarta tersebut, Sri Paduka menyoroti pentingnya kolaborasi konkret antarstakeholder.

“Sebagus apapun regulasi yang disusun pemerintah, tanpa kolaborasi nyata dari semua pihak, hasilnya tidak akan optimal. Untuk menjadikan DIY sebagai Kawasan Ramah Lansia, kita butuh kerja bersama, lintas sektor,” tegas KGPAA Paku Alam X.

Sri Paduka mengungkapkan, saat ini jumlah penduduk lansia di DIY telah mencapai 17,4 persen dari total populasi, dengan angka harapan hidup rata-rata mencapai 75 tahun.

Kondisi ini menjadi tantangan tersendiri bagi daerah, terutama karena sektor informal masih mendominasi perekonomian lokal.

“Dengan angka lansia yang tinggi, kita harus berbenah. Kita bicara soal akses layanan kesehatan, ruang sosial yang inklusif, hingga sistem transportasi yang bersahabat bagi lansia,” imbuhnya.

Baca juga: Pemda DIY Tancap Gass Tekan Stunting, Pemkot dan Pemkab Bakal Dinilai Kinerjanya

Semangat kolaborasi ini sekaligus menjadi refleksi pada momen HLUN yang diperingati setiap 29 Mei.

Bagi Sri Paduka, peringatan ini bukan sekadar seremoni, tetapi sebagai pengingat pentingnya menghormati kontribusi para lansia dalam sejarah dan pembangunan bangsa.

Dalam sambutannya, Sri Paduka juga mengangkat sosok Dr. KRT Radjiman Wediodiningrat sebagai simbol semangat lansia yang tetap produktif di usia senja.

Ia menekankan bahwa lansia tak hanya butuh dihargai, tetapi juga diberi ruang untuk tetap bermakna dalam kehidupan sosial.

“Lansia berhak atas layanan publik yang inklusif, kesehatan yang layak, akses mobilitas, hingga ruang sosial yang ramah. Masa tua yang sejahtera itu bukan soal usia, tapi bagaimana mereka tetap dihormati dan dicintai,” ucapnya.

Ketua II Komda Lansia DIY, Sulistyo, turut menyampaikan harapannya agar HLUN menjadi momen untuk memperkuat kesadaran kolektif tentang pentingnya merawat dan menghormati para orang tua.

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved