Mendorong Perempuan dalam Transisi Energi di Indonesia

Transisi energi tidak hanya tentang peralihan dari bahan bakar fosil ke energi terbarukan, tetapi juga mencerminkan perubahan sosial yang lebih luas. 

Editor: Hari Susmayanti
Dok istimewa
EMANSIPASI : Pandan Wangi (ketiga dari kiri barisan terdepan) dan para peserta seminar Women in Energy Transition in Indonesia 

Oleh: Wangi Pandan Sari, PhD

Dosen Homebase MeTSi UGM

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA – Transisi energi tidak hanya tentang peralihan dari bahan bakar fosil ke energi terbarukan, tetapi juga mencerminkan perubahan sosial yang lebih luas. 

Salah satu aspek penting adalah memastikan perempuan memiliki akses dan kesempatan yang setara untuk berkontribusi dalam industri energi yang terus berkembang.

Studi yang kami lakukan di Pusat Studi Energi UGM (PSE UGM) dengan dukungan Asian Development Bank (ADB) dan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA) menemukan bahwa meskipun peluang kerja di sektor energi hijau terus bertambah, partisipasi perempuan dalam industri ini masih terbatas.

International Renewable Energy Agency (IRENA) mencatat bahwa tenaga kerja di sektor energi terbarukan secara global mencapai 12,7 juta pada 2021, dengan angka yang diprediksi terus meningkat.

Di Indonesia, sektor tenaga surya diperkirakan tumbuh hingga 3.700 persen dari angka 2020 pada 2050, sementara tenaga angin diprediksi meningkat hingga 1.400 persen.

Namun, kesenjangan gender masih menjadi tantangan besar.

Baca juga: Keterlibatan Alumni MeTSi-UGM, BRIN, BRIDA Jateng, dan PemDes Kesongo dalam Pengembangan Rawa Pening

Perempuan hanya mengisi 32 persen tenaga kerja di sektor energi terbarukan dan 22 persen di sektor energi fosil.

Di Indonesia, perusahaan energi besar seperti PLN dan Pertamina juga menunjukkan keterwakilan perempuan yang masih rendah.

Pada 2019, hanya 14-15 persen tenaga kerja di Pertamina adalah perempuandan meskipun angka ini meningkat menjadi 18 persen pada 2022, jumlahnya masih jauh dari ideal.

Akses perempuan ke pendidikan di bidang STEM  juga masih terbatas.

Data dari Kementerian Perindustrian menunjukkan bahwa hanya 12 persen lulusan STEM di Indonesia adalah perempuan, jauh di bawah negara-negara ASEAN lainnya seperti Malaysia dan Vietnam.

Selain itu, norma sosial masih menganggap sektor energi sebagai dunia laki-laki, mempersempit peluang perempuan dalam peran teknis dan kepemimpinan.

Studi OECD dan IEA menemukan bahwa hanya 14 persen posisi senior di perusahaan energi dipegang oleh perempuan.

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved