Mendorong Perempuan dalam Transisi Energi di Indonesia

Transisi energi tidak hanya tentang peralihan dari bahan bakar fosil ke energi terbarukan, tetapi juga mencerminkan perubahan sosial yang lebih luas. 

Editor: Hari Susmayanti
Dok istimewa
EMANSIPASI : Pandan Wangi (ketiga dari kiri barisan terdepan) dan para peserta seminar Women in Energy Transition in Indonesia 

Bahkan ketika perempuan berhasil menembus jabatan manajerial, mereka lebih sering ditempatkan di bidang non-teknis seperti keuangan dan sumber daya manusia daripada di bidang inti energi.

Meski begitu, upaya peningkatan partisipasi perempuan terus berkembang.

PLN dan Pertamina telah meluncurkan program afirmatif seperti Srikandi PLN, yang menargetkan 22 persen posisi manajerial diisi oleh perempuan, serta Leadership Accelerator (LEAP) Pertamina, yang membina perempuan untuk kepemimpinan di sektor energi.

Di bidang pendidikan, MeTSi UGM hadir sebagai bagian dari solusi dengan membekali mahasiswa, termasuk perempuan, dengan keahlian di sistem energi terbarukan.

Dengan pendekatan multidisiplin, MeTSi UGM membuka peluang bagi perempuan untuk berperan lebih aktif sebagai tenaga profesional, peneliti, maupun pemimpin di sektor energi.

Mendorong keterlibatan perempuan bukan hanya tentang kesetaraan, tetapi juga membangun industri energi yang lebih inovatif dan berkelanjutan.

Dengan lebih banyak perempuan di sektor ini, Indonesia dapat mempercepat transisi energi yang lebih adil dan inklusif.

Saatnya perempuan mengambil peran lebih besar dalam membentuk masa depan energi Indonesia. (*)

 

 

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved