Hasil Verifikasi Disdikpora: 8.066 Anak di DIY Tidak Sekolah, Penyebab dan Penanganan

Plt Kepala Disdikpora DIY, Muhammad Setiadi mengungkapkan bahwa angka tersebut diperoleh melalui proses penyaringan data secara ketat. 

Tayang:
Penulis: Tribun Jogja | Editor: Yoseph Hary W
Freepik
Ilustrasi ruang kelas di sekolah 

Ringkasan Berita:
  • Verifikasi Disdikpora DIY mencatat 8.066 anak terkonfirmasi tidak bersekolah.
  • Data berasal dari penyaringan 16.010 ATS dengan proses verifikasi ketat.
  • Penyebab utama beragam, didominasi faktor bekerja dan pilihan individu.
  • Kendala ekonomi bukan faktor utama, digantikan faktor sosial dan lingkungan.
  • Penanganan dilakukan lintas sektor melalui beasiswa dan pendidikan nonformal.
 

 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Hasil verifikasi Dinas Pendidikan dibantu Perangkat Desa atau Kelurahan di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menunjukkan data fakta sebanyak 8.066 anak terkonfirmasi tidak bersekolah. 

Bagaimana proses penyaringan data dan verifikasinya hingga diperoleh data anak tidak sekolah di DIY sebanyak itu, faktor penyebab dan apa solusinya, berikut penjelasan Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) DIY.

Secara ringkas, Disdikpora DIY menyimpulkan faktor penyebab anak tidak sekolah beragam, antara lain keputusan bekerja, dinamika sosial, hingga pilihan individu anak. Kendala ekonomi ternyata tidak lagi mendominasi. 

Bagaimana pun, masalah anak tidak sekolah di DIY menuntut penanganan komprehensif dan lintas sektor.

Data ATS hasil penyaringan ketat

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Disdikpora DIY, Muhammad Setiadi, S.Pt., M.Acc., mengungkapkan bahwa angka tersebut diperoleh melalui proses penyaringan data secara ketat. 

Berdasarkan pembaruan Dashboard Anak Tidak Sekolah (ATS) Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah RI per 5 April 2026, total ATS di DIY awalnya tercatat sebanyak 16.010 penduduk yang terbagi menjadi tiga kategori, yaitu belum pernah bersekolah, lulus tidak melanjutkan, dan putus sekolah (drop out).

"Dari jumlah 16.010 tersebut, sebanyak 5.603 data belum diverifikasi dan 10.407 data telah diverifikasi oleh Dinas Pendidikan dengan dibantu Perangkat Desa atau Kelurahan. Hasil verifikasi menunjukkan bahwa dari 10.407 data anak yang sudah diverifikasi, sebanyak 2.341 penduduk ternyata masih bersekolah dan sudah lulus atau menamatkan jenjang SMA sederajat, sementara 8.066 penduduk lainnya terkonfirmasi tidak bersekolah," paparnya.

Berdasarkan sebaran wilayah, Kabupaten Sleman mencatatkan angka tertinggi dengan 2.810 anak, disusul Kabupaten Gunungkidul sebanyak 2.048 anak, Kabupaten Bantul 1.715 anak, Kabupaten Kulon Progo 953 anak, dan Kota Yogyakarta sebanyak 540 anak.

Faktor penyebab

Mengenai rincian pemicunya, Muhammad Setiadi membeberkan bahwa penyebab terbesar berasal dari kategori lainnya yang mencapai 3.083 anak, yang menunjukkan adanya faktor-faktor beragam di luar kategori yang telah teridentifikasi. 

Selain itu, faktor bekerja menjadi penyebab dominan berikutnya dengan jumlah 2.067 anak, diikuti oleh sikap tidak mau bersekolah sebanyak 1.170 anak.

Faktor sosial juga cukup menonjol, seperti menikah atau mengurus rumah tangga sebanyak 411 anak, serta merasa sudah cukup dengan tingkat pendidikan yang dimiliki saat ini sebanyak 242 anak. 

Di sisi lain, kendala ekonomi langsung seperti tidak ada biaya tercatat dialami oleh 186 anak, serta faktor akses seperti jarak sekolah yang jauh dari rumah sebanyak 77 anak.

Terdapat pula faktor pendukung lain seperti masalah kesehatan atau penyandang disabilitas sebanyak 294 anak, serta pengaruh lingkungan atau teman sebanyak 82 anak.

Meskipun jumlahnya relatif kecil, faktor seperti kekerasan, perundungan, atau trauma di sekolah tercatat dialami 10 anak, tidak memiliki seragam sekolah 1 anak, dan masalah dokumen kependudukan seperti tidak memiliki akta kelahiran masih terus menjadi perhatian. 

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved