Angka Kasus Kanker Mulut di Gunungkidul Tembus 56 Kasus, UGM Lakukan Pendampingan 

Pelatihan ini menyasar sejumlah kader kesehatan di Kabupaten Gunungkidul.

Dok. Istimewa
Para kader kesehatan Gunungkidul saat dibekali metode Samuri atasi kanker mulut, pada Rabu (7/11/2024) 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Nanda Sagita Ginting 

TRIBUNJOGJA.COM, GUNUNGKIDUL - Angka kasus kanker mulut di Kabupaten Gunungkidul tembus sebanyak 56 kasus sepanjang 2024.

Kasus ini tersebar di beberapa wilayah di antaranya di Kapanewon (kecamatan) Wonosari sebanyak 25 pasien, Semanu sebanyak 18 pasien dan Playen sebanyak 13 pasien.

Di tengah angka kasus tersebut, Tim Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Teknologi Tepat Guna (TTG) dari Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada (FKG UGM) ingin mengajak masyarakat untuk mengendalikan penyakit ini melalui pelatihan bertajuk SAMURI (Periksa Mulut Sendiri).

Koordinator Tim PKM TTG UGM, Prof. Dr. drg. Juni Handajani, M.Kes., Ph.D mengatakan pelatihan ini menyasar sejumlah kader kesehatan di Kabupaten Gunungkidul.

"Nantinya para kader ini bisa melakukan pemeriksaan kanker mulut secara mandiri. Kemudian, dapat menularkan keterampilan tersebut ke masyarakat, dan mendeteksi gejala dini kanker rongga mulut yang kerap terlambat disadari,"ucapnya di Aula Germas Dinas Kesehatan Gunungkidul, Kamis (7/11/2024).

Dia mengatakan para kader akan diberikan pemahaman dan praktik metode SAMURI dalam sembilan langkah sederhana, mulai dari memeriksa langit-langit mulut hingga sisi samping lidah.

 “Kami berharap teknik ini bisa menjangkau lebih banyak warga Gunungkidul agar mereka lebih sadar untuk rutin memeriksa kesehatan mulut dan mengenali tanda-tanda awal kanker,” ujarnya.

Lebih dari sekadar keterampilan fisik, pelatihan ini juga menggandeng Fakultas Psikologi UGM untuk memberikan pendampingan emosional kepada kader.

Baca juga: Percepat Fasilitas dan Layanan Permasalahan Hewan Ternak, DPKH Gunungkidul Luncurkan Call Center

Psikolog Edilburga Wulan Saptandari, Ph.D., memberikan bekal tentang bagaimana mendukung penyintas kanker menghadapi emosi mereka, mulai dari penyangkalan hingga penerimaan. 

“Kader harus siap bukan hanya membantu deteksi dini, tapi juga memberikan dukungan psikologis kepada penyintas agar mereka tidak merasa sendiri dalam menghadapi kanker,” jelas dia.

Dengan metode SAMURI dan pendampingan psikologis ini, dia berharap dapat meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya pemeriksaan rutin, yang pada akhirnya menurunkan angka kasus kanker mulut dan memperpanjang usia harapan hidup masyarakat. 

"Kegiatan ini menjadi wujud nyata kolaborasi UGM dengan berbagai pihak, termasuk Yayasan Kanker Indonesia (YKI) Provinsi DI Yogyakarta, untuk menebar harapan dan memutus mata rantai kanker melalui pencegahan sejak dini,"ujarnya.

Sementara itu, Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Gunungkidul, Lucilla Minati. menyambut positif kegiatan seperti ini.

Dia menilai sangat penting dan diharapkan berkelanjutan, bahkan mungkin jadi model pelatihan rutin di masa depan. 

Halaman
12
Sumber: Tribun Jogja
Berita Terkait
  • Ikuti kami di
    AA

    Berita Terkini

    © 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved