Dirjen Kebudayaan RI Hilmar Farid Bicara Transformasi Pengelolaan Museum Lewat BLU
Penyedia layanan publik disektor pemerintahan harus terus berbenah mengadopsi keseimbangan yang lebih efisien sesuai tuntutan jaman.
Tayang:
Penulis: Miftahul Huda | Editor: Muhammad Fatoni
Dok. Istimewa
Dirjen Kebudayaan Kemendikbudristek RI, Hilmar Farid, menjadi pembicara di tur studium di Pascasarjana UGM, Kamis (19/9/2024)
"Maka kalau datang dari luar honornya harus sesuai dan itu bisa dipenuhi oleh museum dan cagar budaya, sebab kurator atau konservator tentu tidak mau dibayar sama dengan tenaga honorer," ucapnya.
Hanya saja tetap ada tantangan yang harus dipikirkan oleh museum dan cagar budaya ketika dikelola dengan mekanisme BLU yakni terjadinya komersialisasi layanan publik.
Hal ini berpotensi menjadikan pengelola lebih mengutamakan pendapatan dari pada memberikan layanan maksimal bagi masyarakat, maka yang jadi korban adalah layanan publik.
"Kepemimpinan jadi kunci dalam mengatasi hal itu, apakah SDM-nya punya kemampuan untuk mengimbangi dan punya visi yang jelas," tutupnya. (*)
Baca Juga
| Pemkab Bantul Belajar Pengelolaan Museum ke Kota Malang |
|
|---|
| Andi Bayou Museum di Bantul, dari Ruang Ingatan ke Wacana City of Museum |
|
|---|
| Strategi Dinas Kebudayaan Bantul Genjot Kunjungan ke Museum |
|
|---|
| Menilik Wajah Baru Museum Chocolate Kingdom di Bangunjiwo Bantul, Hadirkan Sejarah Cokelat Dunia |
|
|---|
| Museum Haji Widayat Magelang Gelar Workshop Melukis dan Membatik Gratis |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/Dirjen-Kebudayaan-Kemendikbudristek-RI-Hilmar-Farid.jpg)