Strategi Dinas Kebudayaan Bantul Genjot Kunjungan ke Museum
Kepemilikan Museum History Of Java Museum akan dialihkan ke Pemerintah Kalurahan Bangunharjo
Penulis: Neti Istimewa Rukmana | Editor: Hari Susmayanti
TRIBUNJOGJA.COM, BANTUL - Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Kabupaten Bantul terus berupaya meningkatkan kunjungan museum dengan berbagai upaya.
Satu di antaranya berupa menambah museum baru yakni History Of Java Museum di Jalan Parangtritis, Kapanewon Sewon.
Kepala Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Kabupaten Bantul, Yanatun Yunadiana, berujar, museum itu akan menjadi milik kalurahan setempat yakni Kalurahan Bangunharjo usai sebelumnya dikelola pihak lain.
"(Perpindahan pengelolaan museum itu) baru kami proses, kami daftarkan menjadi museum, dan kami masukkan dalam forum komunikasi museum yang ada di Kabupaten Bantul," katanya, Minggu (5/4/2026).
Di samping itu, kata Yanatun, pihaknya juga akan kembali melanjutkan program wajib kunjung museum untuk meningkatkan kunjungan museum setempat.
Dengan adanya wajib kunjung museum, paling tidak kunjungan museum bisa meningkat sekitar 30 persen pada tahun 2026.
Hanya saja, sebagian besar museum di Bumi Projotamansari saat ini masih berstatus kepemilikan yayasan maupun pribadi.
Sedangkan, untuk museum yang baru dimiliki oleh Dinas Kebudayaan Kabupaten Bantul hanya ada satu yakni Museum Padepokan Sumber Karahayon, di Kalurahan Jambidan, Kapanewon Banguntapan.
Baca juga: Pemkot Yogya Gencarkan Sweeping Imunisasi Campak, Sasar Anak yang Tercecer Vaksinasi
"Tapi nyuwun ngapunten (mohon maaf), kondisi museumnya belum bisa kami buka untuk umum karena masih ada beberapa hal yang perlu kami lakukan perbaikan," jelasnya.
Sementara itu, Kepala Bidang Sejarah, Permuseuman, Bahasa, dan Sastra Disbud Bantul Purwanto, mencatat, setidaknya ada sekitar 17 museum yang tergabung dalam Forum Komunikasi Museum Bantul (FKMB).
"10 di antara museum tersebut mengalami penurunan kunjungan pada tahun 2025, empat museum mengalami kenaikan pada tahun 2025, dan tiga lainnya merupakan museum baru pada 2025," ujar dia.
Penurunan kunjungan yang cukup tajam terlihat di Museum Memorial Jenderal Besar HM Soeharto, yang mencatatkan 62.088 wisatawan pada 2025 dari sebelumnya 66.919 pada 2024.
Tren serupa juga dialami Museum Wayang Beber Sekartaji, di mana jumlah pengunjung merosot dari 3.958 orang menjadi 1.990 orang dalam periode yang sama.
Penurunan kunjungan museum itu terjadi dikarenakan beberapa faktor. Satu di antaranya yakni adanya kebijakan larangan study tour oleh Gubernur Jawa Barat.
"Kemudian, penurunan kunjungan museum ada yang dipengaruhi dari faktor internal museum. Ada yang minim dalam menyelenggarakan event mandiri, karena keterbatasan dana dan sebagainya," tutup dia.(nei)
| Sukseskan Pilur 2026, KPU dan Bawaslu Bantul Siap Sinergi dengan Pemkab |
|
|---|
| Proses Pematangan Lahan Gedung Budaya Bantul Dimulai April Ini |
|
|---|
| Dana Desa di Bantul Terjun Bebas, Kalurahan Rata-rata Hanya Kebagian Rp373 Juta |
|
|---|
| Pilur 2026 di Bantul, Tak Ada Lagi Batasan Jumlah Calon Lurah |
|
|---|
| Menilik Wajah Baru Museum Chocolate Kingdom di Bangunjiwo Bantul, Hadirkan Sejarah Cokelat Dunia |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/lomba-melukis-di-Museum-Memorial-Jenderal-Besar-Soeharto.jpg)