GLOBAL VIEWS 

Asia Tenggara, Timur Jauh, dan Mimpi Indah Rusia

Forum Ekonomi Timur yang digagas Rusia di Vladivostok menggemakan peningkatan kemitraan Euroasia dari Arktik hingga Jalur Sutra.

Tayang:
Penulis: Krisna Sumarga | Editor: Krisna Sumarga
Telegram/Kremlin.ru
Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden Mongolia Ukhnaagiin Khurelsukh berjalan mendapat sambutan kehormatan pasukan Istana Kepresidenan Ulanbataar. Selama dua hari Putin melakukan kunjungan kenegaraan ke negara tersebut. 

Indonesia sudah sejak lama diajak bergabung, tapi hingga jelang pergantian kepemimpinan nasional, belum ada tanda-tanda kuat bagaimana sikap Jakarta.

Menteri Luar Negeri Retno Marsudi menyatakan telah mempresentasikan soal BRICS ke Presiden Terpilih Prabowo Subianto, dan keputusan akan ada di pemerintahan mendatang.

Di mata Anwar Ibrahim, momentum saat ini adalah kesempatan semakin baik bagi Rusia dan juga Tiongkok menarik investasi dari negara-negara mayoritas Muslim.

Anwar lalu mengingatkan tragedi kemanusiaan di Gaza. Ia mengaku selalu bertanya-tanya ke sejawatnya, dan juga barat, di mana kemanusiaan.

Ia beretorika, bagaimana barat berani berbicara tentang keadilan, bagaimana mereka berani menjual isu hak asasi manusia dan demokrasi ke mana-mana, tapi membiarkan tragedy kemanusiaan terjadi di Palestina.

Ini sebuah catatan keras Anwar Ibrahim, yang sekaligus mendudukkan posisinya dalam geopolitik internasional.

Wakil Presiden China Han Zheng dalam presentasinya hanya menekankan momentum pertemuan tingkat tinggi baru-baru ini di Beijing dan Astana yang memperkuat kemitraan strategis Rusia-Tiongkok.

Hubungan harmonis Moskow-Beijing itu memastikan status Tiongkok sebagai mitra dagang dan investor terkemuka di Timur Jauh Rusia.

Presiden China Xi Jinping pada Selasa (17/10/2023) menyambut kedatangan Presiden Rusia Vladimir Putin di Beijing.
Presiden China Xi Jinping pada Selasa (17/10/2023) menyambut kedatangan Presiden Rusia Vladimir Putin di Beijing. (TRIBUNJOGJA.COM)

Rusia dan China sepakat memodernisasi struktur lintas batas; dan mengerucutkan Prakarsa Keamanan Global versi Presiden Xi Jinping.

Han Zheng menjelaskan dengan cukup jelas bagaimana Tiongkok menganggap serius format keamanan komprehensif baru, untuk memerangi mentalitas perang dingin.

Prakarsa Tiongkok itu sejatinya ingin mengoreksi kebijakan politik hegemonik ala Amerika Serikat, Uni Eropa, dan NATO, yang tampak dalam berbagai palagan konflik global.

Perang Ukraina adalah representasi mentalitas perang dingin NATO, yang berusaha melebarkan pengaruh dan kontrolnya ke Eropa Timur, sesuatu yang menyulut kemarahan Rusia.

Prakarsa Xi Jinping menawarkan penyelesaian damai konflik Ukraina, melibatkan semua pihak dengan posisi yang setara tanpa syarat.

Inisiatif ini ditolak Ukraina dan para beking baratnya, yang ingin memaksakan solusi pengakhiran perang versi Ukraina tanpa melibatkan Rusia.

Dalam beberapa tahun ke depan, kita akan melihat perubahan signifikan tata dunia, yang embrionya adalah BRICS+.

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 3/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved