GLOBAL VIEWS 

Asia Tenggara, Timur Jauh, dan Mimpi Indah Rusia

Forum Ekonomi Timur yang digagas Rusia di Vladivostok menggemakan peningkatan kemitraan Euroasia dari Arktik hingga Jalur Sutra.

Tayang:
Penulis: Krisna Sumarga | Editor: Krisna Sumarga
Telegram/Kremlin.ru
Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden Mongolia Ukhnaagiin Khurelsukh berjalan mendapat sambutan kehormatan pasukan Istana Kepresidenan Ulanbataar. Selama dua hari Putin melakukan kunjungan kenegaraan ke negara tersebut. 

Jika Rusia melemah, atau bahkan hancur lebur lebih parah disbanding runtuhnya Soviet, maka upaya perampasan dan eksploitasi kekayaan tak terbatas di Timur Jauh/Arktik akan lebih mudah.

Putin sekali lagi menggambarkan bagaimana kedua wilayah tersebut adalah masa depan Rusia, dan prioritas pemerintah Federasi Rusia abad ke-21 adaah masalah keamanan nasional.

Pertumbuhan investasi dalam modal awal sudah naik hingga 20 persen, dua kali lipat rata-rata Rusia; dan setiap rubel pendanaan negara diimbangi oleh 34 rubel investasi swasta.

Industri utama meliputi energi, petrokimia, pertambangan, kayu, logistik, pesawat terbang/mesin/pembuatan kapal, pertanian, dan perikanan.

Rencana besar Rusia itu diintegrasikan tak hanya ke timur jauh, tetapi juga akan digambarkan dalam agenda BRICS+, blok baru ekonomi global yang semakin meresahkan kelompok G-7.

G-7 adalah blok ekonomi kapitalis negara-negara industry maju yang dipimpin Amerika Serikat. Rusia pernah masuk di blok ini, tapi ditendang sesudah perang pecah di Ukraina.

Sementara Anwar Ibrahim dalam presentasinya mengecam hipokrisi barat, dan hilangnya kemanusiaan di negara-negara demokrasi itu.

Tokoh senior yang dikenal orator hebat itu menjabarkan ASEAN sebagai titik strategis persimpangan Asia-Pasifik.

Posisinya yang seksi jadi rebutan barat dan kekuatan penyeimbang China.  

Amerika Serikat selama beberapa tahun terakhir mencoba memperkuat kerjasama Indo-Pasifik guna menangkal pengaruh Tiongkok.

Di Indonesia, usaha itu tampak lewat beberapa program latihan militer bersama dengan TNI, seperti yang baru saja digelar Latgab Garuda Shield di Banyuwangi dan Situbondo, Jawa Timur.

Malaysia sendiri juga tak lepas dari masalah problematik sebagai anggota Persemakmuran Inggris, yang mempengaruhi ruang geraknya dalam peta global politik.

Tapi Anwar Ibrahim tampak berusaha menyodorkan perspektif baru, sembari menekankan kontribusi Rusia dalam kebangkitan Global Selatan.

Global Selatan adalah sebutan untuk negara-negara berkembang yang kini memberi sumbangan 40 persen Product Domestic Brutto global, memiliki lebih dari 85 persen populasi dunia.

Malaysia pun kini secara resmi mengajukan permohonan untuk bergabung dengan BRICS+, menunjukkan arah baru negara itu dalam peta ekonomi global.

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 2/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved