GLOBAL VIEWS 

Kemerosotan Volkswagen, Redupnya Ekonomi Jerman, dan Dampak Memusuhi Rusia

Volkswagen berencana menutup enam pabriknya di Eropa akibat biaya tinggi di sektor energi, menyusul putusnya kerjasama migas Jerman-Rusia.

Penulis: Krisna Sumarga | Editor: Krisna Sumarga
TRIBUNJOGJA.COM / Wahyu Setiawan
Deretan mobil VW Kodok atau Beetle dalam Jogja Volkswagen Festival 2019 yang digelar di Jogja Expo Center, Sabtu-Minggu, 9-10 November 2019. 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA – Kanselir Jerman Olaf Scholz menyerukan upaya baru mengakhiri konflik antara Rusia dan Ukraina.

Pemimpin tersebut menyampaikan pernyataan tersebut dalam wawancara yang disiarkan televisi ZDF, Minggu 8 September 2024.

"Saya yakin sekarang adalah saatnya untuk membahas cara mencapai perdamaian dari keadaan perang ini, bahkan dengan kecepatan yang lebih tinggi," Scholz.

Meskipun awalnya enggan memberikan bantuan militer ke Ukraina, Berlin telah menjadi salah satu pendukung utama Kiev di tengah konflik tersebut.

Jerman telah memasok Ukraina berbagai perangkat keras, termasuk tank tempur utama Leopard 1 dan 2, serta kendaraan tempur infanteri Marder.

Baca juga: Politisi Jerman Tuntut Kanselir Olaf Scholz Serius Selidiki Ledakan Nord Stream

Baca juga: Hongaria Ingin Penyelesaian Perang Rusia-Ukraina Tanpa Syarat Apapun

Baca juga: Boris Pistorius Akan Lebih Galak Bawa Militer Jerman ke Perang Ukraina

Jerman menuduh Presiden Rusia Vladimir Putin mencoba memecah-belah dengan membocorkan hasil sadapan percakapan rahasia tentara Jerman tentang perang Ukraina.
Jerman menuduh Presiden Rusia Vladimir Putin mencoba memecah-belah dengan membocorkan hasil sadapan percakapan rahasia tentara Jerman tentang perang Ukraina. (TRIBUNJOGJA.COM)

Komentar Scholz tentang mencapai perdamaian di Ukraina sesegera mungkin muncul saat ia terus berjuang dengan berbagai masalah dalam negeri.

Menurut jajak pendapat yang diterbitkan ZDF, sekitar 77 persen warga Jerman menganggap Scholz sebagai pemimpin lemah.

Jajak pendapat tersebut tampaknya menandai peringkat persetujuan terburuk yang ditunjukkan oleh Scholz selama masa jabatannya, dengan sekitar 74 persen responden tak mempercayai tokoh ini.

Koalisi penguasa Scholz mengalami kemunduran yang menyakitkan selama pemilihan daerah minggu lalu, menunjukkan kinerja yang buruk di Thuringia dan Saxony, di bekas Jerman Timur.

Dua wilayah utama tersebut telah menyaksikan kebangkitan partai populis sayap kanan Alternatif untuk Jerman (AfD) dan partai populis sayap kiri Sahra Wagenknecht Alliance (BSW).

Kedua partai tersebut, meskipun berada di sisi kutub spektrum, sangat menentang keterlibatan Jerman yang terus-menerus dalam konflik di Ukraina.

Berita buruk lainnya, manajemen Volkswagen, produsen otomotif terbesar di Eropa dan penopang utama ekonomi Jerman, berencana menutup sejumlah pabriknya.    

Selai itu VW menyorongkan daftar pemutusan hubungan kerja. Rencana PHK yang menyakitkan ini merupakan pukulan telak bagi Volkswagen dan ekonomi Jerman.     

Kepala Keuangan Volkswagen Arno Antlitz dan Kepala Brand VW Thomas Schaefer menyampaikan rencana iu 4 September 2024, di Wolfsburg, pabrik terbesar VW di Eropa.

Kepala Serikat Pekerja Volkswagen Daniela Cavallo menolak rencana penutupan 6 pabrik dan PHK itu belum pernah terjadi dalam sejarah VW.

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved