Berita Kota Yogya Hari Ini

Semangat 'Rikat Rakit Raket' untuk Mengatasi Problematika Dasar Kota Yogyakarta

Tema besar Rikat Rakit Raket diusung dalam peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-77 Pemkot Yogya, yang diperingati 7 Juni 2024.

Tayang:
Penulis: Azka Ramadhan | Editor: Kurniatul Hidayah
Dok Pemkot Yogyakarta
Sendratari Sang Pangaribawa menjadi refleksi bagi Pemkot Yogyakarta dalam meneladani pemimpin yang bertahta untuk rakyat dengan semangat Rikat Rakit Raket memberikan pelayanan pada masyarakat. 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Tema besar Rikat Rakit Raket diusung dalam peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-77 Pemkot Yogya, yang diperingati 7 Juni 2024.

Bukan sebatas jargon perayaan semata, Rikat Rakit Raket pun menjadi sebuah komitmen bagi aparatur Pemkot dalam memberikan pelayanan terbaik untuk warga masyarakat Kota Yogyakarta.

Penjabat Wali Kota Yogyakarta, Sugeng Purwanto, mengatakan, bahwa tema Rikat Rakit Raket berbicara soal ketangkasan, kreativitas dan kekompakan.

Sehingga, lewat komitmen tersebut, aparatur Pemkot Yogya diharapkan mampu mengimbangi dinamika zaman yang tantangannya semakin kompleks.

Baca juga: Implementasi Rikat Rakit Raket Lewat Rentetan Peringatan HUT ke-77 Pemkot Yogyakarta

"Sekarang ini standar layanan masyarakat terus bertumbuh. Maka, dengan semangat itu, pemerintah harus semakin optimal memenuhi kebutuhan warga masyarakat," tandasnya.

Sugeng berujar, dewasa ini problematika yang harus dikuatkan adalah pemenuhan infrastruktur kebutuhan dasar masyarakat, seperti soal persampahan, hingga sanitasi permukiman.

Menurutnya, hal itu menjadi penting karena luas Kota Yogyakarta yang hanya 32,8 meter persegi dan 60 persennya merupakan kawasan cagar budaya, menghadirkan sebuah tantangan.

"Karena dalam penyempurnaan infrastruktur dasar itu kita tidak bisa leluasa. Lahannya kecil dan penuh dengan aturan-aturan yang kita tidak boleh menabraknya," cetusnya.

"Jadi, dibutuhkan ketangkasan, kreativitas dan kekompakan, untuk menemukan strategi dan rumusan yang tepat, di tengah tantangan dan hambatan yang besar," imbuh Sugeng.

Misalnya, terkait pengelolaan sampah, terdapat dua strategi yang ditempuh, yakni hulu berbasis rumah tangga dan pelaku ekonomi, serta hilir yang dilangsungkan oleh pemerintah.

Menurutnya, di tengah segala keterbatasan, terutama soal ketersediaan lahan, kedua strategi tersebut harus berjalan beriringan dan berkesinambungan.

"Dengan gerakan zero sampah anorganik, sampah harian kita bisa turun dari 300 ton per hari menjadi 180 ton per hari. Itu nyata, ada progresnya," ucapnya.

Kemudian, seiring berjalannya waktu, strategi pengelolaan di hulu semakin digencarkan, melalui Mengolah Limbah dan Sampah dengan Biopori ala Jogja (Mbah Dirjo) menyasar sampah organik.

Lewat program tersebut, diharapkan, sampah yang tidak terkelola di level rumah tangga bisa diminimalisir dan semakin menyusut dari tren 180 ton per hari.

"Sehingga, kita harus memperkuat rekonstruksi sosial. Masyarakat harus disadarkan untuk mengurangi sisa sampah yang belum terkelola," cetus Sugeng.

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved