Distribusi Daging Kurban di Sleman Diimbau Tak Pakai Plastik 

Pemkab Sleman melalui Dinas Lingkungan Hidup kembali menyiapkan SE Pelaksanaan Kurban Ramah Lingkungan untuk menyambut Iduladha tahun ini

Tayang:
Penulis: Ahmad Syarifudin | Editor: Hari Susmayanti
TRIBUNJOGJA.COM/Ahmad Syarifudin
Warga Pules Kidul membungkus daging kurban ke dalam besek 

TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Hari raya kurban sebentar lagi tiba. Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sleman melalui Dinas Lingkungan Hidup kembali menyiapkan Surat Edaran (SE) Pelaksanaan Kurban Ramah Lingkungan untuk menyambut Iduladha tahun ini.

Dalam aturan tersebut, panitia kurban di seluruh kapanewon dan takmir masjid diimbau untuk tidak menggunakan plastik sekali pakai dalam mendistribusikan daging kepada masyarakat.

Plt. Kepala DLH Sleman, Sugeng Riyanta mengatakan, Surat Edaran Pelaksanaan Kurban Ramah Lingkungan ini merupakan langkah rutin tahunan yang ditujukan kepada seluruh kapanewon, takmir masjid, hingga panitia penyembelihan di wilayah Kabupaten Sleman.

Fokus utama dari edaran ini adalah mengedukasi dan mendorong panitia kurban serta masyarakat agar mengurangi timbulan sampah plastik sekali pakai dan menjaga kebersihan lingkungan selama rangkaian pelaksanaan kurban. 

"Di samping menghindari penggunaan plastik sekali pakai, juga pengelolaan limbah jeroan. Terkait ini, kami akan koordinasikan juga dengan dinas pertanian," kata Sugeng, Sabtu (9/5/2026). 

Senada dengan hal tersebut, Wakil Bupati Sleman, Danang Maharsa juga telah memberikan imbauan agar distribusi daging kurban bisa lebih ramah lingkungan.

Baca juga: Pakar Gizi Unisa Ungkap Bahaya Kantong Kresek Buat Daging Kurban: Mengandung Zat Karsinogen

Ia menyarankan masyarakat menggunakan besek atau anyaman bambu sebagai pengganti kantong plastik.

"Yang penting dari imbauan pemerintah adalah untuk mengurangi penggunaan plastik saat membagi daging. Diharapkan bisa menggunakan besek atau dari anyaman bambu, dalam rangka kita berusaha untuk apa namanya, cinta lingkungan. Mengurangi sampah plastik yang ada di masyarakat dari efek kurban," kata Danang. 

Tak hanya soal limbah plastik, kesiapan kesehatan hewan dan teknis penyembelihan juga menjadi perhatian serius dari pemerintah.

Plt. Kepala Dinas Pertanian, Pangan, dan Perikanan (DP3) Sleman, Rofiq Andriyanto mengaku akan menerjunkan tim pemantau kesehatan hewan secara masif.

Dalam pemantauan ini, pihaknya akan bekerjasama dengan UGM mengerahkan sekitar 50 - 70 personil untuk berkeliling mengecek kesehatan hewan terutama di pasar tiban, baik sebelum (Antemortem) maupun sesudah disembelih (Postmortem).

Selain itu, ada 24 dokter hewan dan 75 penyuluh lapangan yang disiapkan. 

Tidak kalah penting, Rofiq mengingatkan panitia kurban untuk memperhatikan aspek kesejahteraan hewan dan pengelolaan limbah pasca penyembelihan. 

"Hewan (kurban) sebelum disembelih itu tidak boleh berada di tempat penyembelihan. Karena biasanya terus membuat stres. Kono ono kancane dibeleh. Itu harus dijaga agar tidak kelihatan. Kemudian juga harus membuat tempat khusus untuk membuang limbah," kata Rofiq. 

"Darah habis penyembelihan harus masukkan ke lubang. Kemudian jeroan dan kotorannya itu tidak boleh dibuang ke sungai," imbuh dia.(*) 

 

 

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved