DPKH Gunungkidul Ungkap Penyebab Kematian Puluhan Kambing di Ponjong, Bukan Antraks Tapi Keracunan

Penyebab kematian hewan ternak tersebut dikarenakan keracunan zat sianida pada daun telo karet yang dijadikan pakan ternak.

Tayang:
TRIBUNJOGJA.COM / Suluh Pamungkas
Berita Gunungkidul 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Nanda Sagita Ginting 

TRIBUNJOGJA.COM, GUNUNGKIDUL - Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (DPKH) Gunungkidul mengungkap penyebab matinya puluhan ekor kambing secara mendadak di Kalurahan Sawahan, Kapanewon Ponjong, pada Selasa (20/02/2024) lalu.

Kepala DPKH Gunungkidul, Wibawanti Wulandari, mengatakan penyebab kematian hewan ternak tersebut dikarenakan keracunan zat sianida pada daun telo karet yang dijadikan pakan ternak.

"Dari hasil laboratorium disebabkan sianida yang kemungkinan ada dalam pakan yaitu daun telo karet. Sedangkan, untuk bakteri antraks negatif, begitupun pestisida juga negatif," ujarnya saat dikonfirmasi pada Rabu (13/3/2024).

Ia menjelaskan, daun telo karet bukanlah pakan ternak.

Sebab, daun ini memiliki zat sianida yang berbahaya jika termakan baik oleh manusia maupun hewan.

"Kalaupun memang ingin memberikan pakan ternak pakai ini (daun singkong karet) maka harus diolah dulu, seperti direbus. Namun, saya menganjurkan tidak memberikan pakan ternak dengan daun jenis ini (daun telo  karet)," ucapnya.

Sebelumnya diberitakan, sebanyak 22 ekor hewan ternak kambing milik Rohmad, warga Kalurahan Sawahan, Kapanewon Ponjong, ditemukan mati mendadak, pada Selasa (20/02/2024) kemarin.

Kematian hewan ternak ini diduga disebabkan pemilik sempat memberikan pakan ternak berupa daun telo karet.

Kapolsek Ponjong, AKP Yulianto, menuturkan kematian kambing milik Rohmad ini pertama kali diketahui oleh seorang warga bernama Supriyadi.

Saat tengah melintas, Supriyadi mendapati seorang kambing sudah dalam kondisi mati di sekitar kandang.

Dia lantas melaporkan kejadian tersebut kepada pemilik kambing.

"Setelah dicek ternyata satu per satu kambing menggigil dalam kondisi berdiri kemudian lari-lari dan kejang hingga mati. Gejala secara kasat mata tidak diketahui pasti, dan mulut tidak mengeluarkan busa,"tukasnya (*)

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved