Sumbu Filosofi Yogyakarta

Tradisi Labuhan Kraton Jogja: Pantai Parangkusumo, Gunung Merapi, Gunung Lawu, dan Dlepih Kahyangan

Mengenal empat petilasan atau lokasi Upacara Labuhan Keraton Yogyakarta. Ada Pantai Parangkusumo, Gunung Merapi, Gunung Lawu, dan Dlepih Kahyangan.

DOK. Kraton Jogja
Tradisi Labuhan Kraton Jogja: Pantai Parangkusumo, Gunung Merapi, Gunung Lawu, dan Dlepih Kahyangan 

TRIBUNJOGJA.COM - Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat atau Kraton Jogja memiliki tradisi bernama “Hajad Dalem Labuhan” yang sampai kini masih lestari.

Apa itu Labuhan?

Dikutip dari laman resmi Keraton Yogyakarta, kratonjogja.id, berikut penjelasan arti kata labuhan.

Labuhan berasal dari kata “labuh” yang artinya membuang, meletakkan, atau menghanyutkan. 

Maksud dari labuhan adalah memanjatkan doa dan pengharapan untuk membuang segala macam sifat buruk. 

Uborampe atau Ubarampe Upacara Labuhan Keraton Yogyakarta
Uborampe atau Ubarampe Upacara Labuhan Keraton Yogyakarta (DOK. Kraton Jogja)

Pada pelaksanaannya, Keraton Yogyakarta melabuh benda-benda tertentu yang disebut sebagai “ubarampe labuhan atau “uborampe labuhan”. 

Uborampe labuhan akan dilabuh di tempat-tempat tertentu.

Tempat untuk membuang atau melabuh uborampe labuhan disebut “petilasan”.

Penyelenggaraan Labuhan Keraton Yogyakarta 

Pagelaran Kraton Yogyakarta di Alun Alun Utara
Pagelaran Kraton Yogyakarta di Alun Alun Utara (Tribun Jogja/ Wahyu Setiawan Nugroho)

Labuhan Keraton Yogyakarta atau yang dikenal sebagai Hajad Dalem Labuhan, diselenggarakan setiap peringatan hari penobatan Sultan.

Di Kraton Jogja, hari penobatan Sultan disebut sebagai “Jumenengan Dalem”.

Pada masa kepemimpinan Sri Sultan Hamengku Buwono IX, Hajad Dalem Labuhan tidak diselenggarakan untuk memperingati Jumenengan Dalem.

Namun, saat itu Hajad Dalem Labuhan diselenggarakan sebagai acara peringatan hari ulang tahun Sultan (Wiyosan Dalem) berdasarkan kalender Jawa. 

Adapun pada masa pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono X, Hajad Dalem Labuhan kembali diadakan saat peringatan Jumenengan Dalem. 

Setiap tahun, Upacara Labuhan Keraton Yogyakarta digelar sehari setelah puncak acara Jumenengan Dalem (29 Rejeb) sehingga jatuh pada tanggal 30 Rejeb (Kalender Jawa).

Empat Petilasan Tempat Upacara Labuhan Keraton Yogyakarta dan Kisah Sejarahnya

Upacara Labuhan atau Hajad Dalem Labuhan diselenggarakan di empat petilasan.

Petilasan merupakan tempat yang dinilai penting dan memiliki nilai historis terkait keberadaan Keraton Yogyakarta

Petilasan dipilih sebagai lokasi Upacara Labuhan Keraton Yogyakarta untuk menghargai, menghormati, merenungi, dan napak tilas perjuangan para Raja Yogyakarta dari masa ke masa.

Inilah empat petilasan Upacara Labuhan Keraton Jogja dan kisah sejarahnya.

1. Pantai Parangkusumo

Prosesi Labuhan Keraton Ngayogyakarta memperingati bertahtanya Sri Sultan Hamengku Buwono X di Pantai Parangkusumo, Selasa (21/2/2023)
Prosesi Labuhan Keraton Ngayogyakarta memperingati bertahtanya Sri Sultan Hamengku Buwono X di Pantai Parangkusumo, Selasa (21/2/2023) (TRIBUNJOGJA.COM/Santo Ari)

Pantai Parangkusumo terletak di Kelurahan Parangtritis, Kecamatan Kretek, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

Parangkusumo merupakan tempat yang dipilih Panembahan Senopati untuk bertapa, merenung dan memohon petunjuk kepada Tuhan Yang Maha Kuasa agar bisa menjadi pemimpin yang baik. 

Menurut legenda, ketika bertapa, Panembahan Senopati bertemu dengan penguasa laut selatan, yaitu Kanjeng Ratu Kidul atau Nyi Roro Kidul. 

Dalam pertemuan tersebut, Kanjeng Ratu Kidul berjanji akan membantu Panembahan Senopati dan keturunannya. 

Pada akhirnya, Panembahan Senopati berhasil mendirikan sebuah kerajaan, yaitu Mataram.

Keraton Yogyakarta merupakan salah satu kerajaan penerus Mataram. 

Sejarah itulah yang membuat Pantai Parangkusumo dipilih sebagai salah satu petilasan Upacara Labuhan.

Klik di sini untuk membaca sejarah Labuhan Pantai Parangkusumo secara lebih lengkap.

Klik di sini untuk membaca sejarah Cepuri Parangkusumo, yang memuat pertemuan Panembahan Senopati dan Ratu Kidul.

2. Gunung Merapi

Seorang warga melintas di lereng gunung Merapi di Desa Balerante, Kemalang, Klaten beberapa waktu lalu
Seorang warga melintas di lereng Gunung Merapi di Desa Balerante, Kemalang, Klaten (Tribunjogja/Almurfi Syofyan)

Gunung Merapi adalah salah satu gunung berapi yang paling aktif di Indonesia.

Lokasinya berada di antara Provinsi DIY dan Jawa Tengah. Di DIY, lokasi Gunung Merapi berada di Kabupaten Sleman, ujung utara wilayah Jogja.

Gunung Merapi menjadi salah satu lokasi labuhan atau petilasan, karena dianggap berperan dalam sejarah berdirinya Kerajaan Mataram

Kilas balik pada tahun 1586, kondisi politik Kerajaan Pajang dan Kerajaan Mataram memanas.

Hal itu terjadi karena perkembangan Mataram begitu pesat. Padahal, Mataram masih menjadi wilayah otonom di bawah Kerajaan Pajang.

Para penguasa Kerajaan Pajang mulai merasakan kekhawatiran. Saat itu, Kerajaan Pajang dipimpin oleh Sultan Hadiwijaya. 

Keresahan para penguasa membuat Kerajaan Pajang menggulirkan rencana perang untuk melemahkan Mataram. 

Ketika pasukan Kerajaan Pajang menyerbu Mataram, pada saat bersamaan, Gunung Merapi meletus. 

Foto Gunung Merapi terkini, keluarkan guguran lava
Foto Gunung Merapi keluarkan guguran lava (Istimewa)

Letusan Gunung Merapi menghancurkan perkemahan pasukan Kerajaan Pajang di wilayah Prambanan. 

Perang pun berakhir, dan Mataram selamat karena pasukan Kerajaan Pajang mundur dari perang.

Itulah kisah sejarah yang menjadi latar belakang dipilihnya Gunung Merapi sebagai petilasan Labuhan Keraton Yogyakarta.

Klik di sini untuk membaca sejarah dan legenda Gunung Merapi.

3. Gunung Lawu

Indahnya pucak gunung saat cuaca cerah. Kini pendakian di Gunung Lawu tak dibatasi saat malam Tahun Baru 2023.
Indahnya pucak gunung saat cuaca cerah. Kini pendakian di Gunung Lawu tak dibatasi saat malam Tahun Baru 2023. (TribunSolo.com/Asep Abdullah)

Gunung Lawu adalah gunung berapi non-aktif yang terletak di Pulau Jawa, tepatnya di perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Gunung yang menjadi salah satu petilasan Labuhan Kraton Jogja ini terletak di antara tiga kabupaten, yaitu Kabupaten Karanganyar di Jawa Tengah, serta Kabupaten Ngawi dan Kabupaten Magetan di Jawa Timur.

Alasan Gunung Lawu dijadikan tempat petilasan labuhan berhubungan dengan kisah sejarah Kerajaan Majapahit.

Gunung Lawu dipercaya sebagai tempat pengasingan Prabu Brawijaya V dari Kerajaan Majapahit. 

Pada tahun 1478, Kerajaan Majapahit diserang oleh Girindrawardhana dari Kerajaan Kaling.

Karena tentara Kerajaan Majapahit tidak mampu menghalau serangan tersebut, Prabu Brawijaya V memutuskan untuk menyingkir ke Gunung Lawu dan hidup menjadi seorang pertapa.

Ia pun kemudian bergelar Sunan Lawu. 

Prabu Brawijaya V merupakan leluhur dari pendiri Kerajaan Mataram dan Keraton Yogyakarta.

Untuk itu, sebagai bentuk penghormatan, Gunung Lawu dipilih menjadi lokasi Upacara Labuhan Kraton Jogja.

Setiap dilaksanakan Upacara Labuhan Kraton Jogja di Gunung Lawu, uborampe labuhan akan diserahterimakan kepada Juru Kunci Gunung Lawu yang berada di Tawangmangu, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah.

4. Dlepih Kahyangan

Situs Kahyangan di Desa Dlepih, Kecamatan Tirtomoyo, Wonogiri, Rabu (12/10/2022). Situs Kahyangan konon menjadi tempat bertapa dari Panembahan Senopati sebelum mendirikan Kerajaan Mataram
Situs Kahyangan di Desa Dlepih, Kecamatan Tirtomoyo, Wonogiri, Rabu (12/10/2022). Situs Kahyangan konon menjadi tempat bertapa dari Panembahan Senopati sebelum mendirikan Kerajaan Mataram (Tribunsolo.com/Erlangga Bima Sakti)

Perbukitan Dlepih Khayangan atau Dlepih Kahyangan terletak di Kecamatan Tirtamaya, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah. 

Selain Parangkusumo, Dlepih Kahyangan merupakan tempat yang digunakan Panembahan Senopati untuk bertapa sebelum membangun Kerajaan Mataram dan membentuk pemerintahan yang kuat. 

Selain Panembahan Senopati, Dlepih Kahyangan juga digunakan untuk bertapa para Raja Mataram dan Raja Kasultanan Yogyakarta.

Beberapa tokoh yang bertapa di Dlepih Kahyangan antara lain Sultan Agung Hanyokrokusumo dan Sri Sultan Hamengku Buwono I (Pangeran Mangkubumi).

Berbeda dengan upacara labuhan lainnya, Upacara Labuhan Dlepih Kahyangan hanya dilaksanakan setiap 8 tahun sekali.

Upacara Labuhan Keraton Yogyakarta di Dlepih Kahyangan digelar pada tahun Dal, atau setiap sewindu penobatan Sultan. 

Upacara Labuhan di Dlepih Kahyangan masuk golongan Labuhan Ageng yang digelar setiap  tahun sekali.

Sementara itu, Upacara Labuhan yang lain masuk golongan Labuhan Alit karena digelar setahun sekali.

Baca juga: Apa yang Dimaksud dengan Sumbu Filosofi Yogyakarta? Ternyata Asal Usulnya dari Sejarah Abad 18

Baca juga: Mengenal 12 Pangkat Abdi Dalem Keraton Yogyakarta dan Proses Kenaikan Pangkatnya

Demikian penjelasan Upacara Labuhan Keraton Yogyakarta, lengkap dengan kisah sejarah dan berbagai lokasinya. 

Klik di sini untuk mengenal Sumbu Filosofi Yogyakarta dan tempat-tempat bersejarah lain di Jogja. (Tribunjogja.com/ANR)

Berita Terkait
  • Ikuti kami di
    AA

    Berita Terkini

    © 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved