Mutiara Ramadan
Ketahanan Keluarga
Setiap ibadah yang dilakukan oleh semua umat beragama sarat akan makna dan tujuan mulia.
Keimanan diiringi dengan peribadahan yang baik akan memperkuat keikhlasan akan takdir Allah, memiliki kesadaran yang tinggi bahwa kehidupan telah diatur oleh yang Maha Kuasa.
Kedua, Ramadan melatih kejujuran. Kejujuran akan terwujud dalam diri setiap orang menjalankan ibadah puasa.
Karena ibadah puasa langsung hubungannya dengan Allah SWT. Allah menegaskan bahwa seluruh perbuatan keturunan Adam untuknya kecuali puasa, puasa milik Allah dan Allah yang akan membalasnya. Hadits ini bermakna bahwa puasa, tidak bisa dilihat oleh siapapun kecuali dirinya dan Allah.
Kesadaran diri dalam ibadah puasa yang langsung dalam urusan Allah, maka akan dapat terwujud kejujuran. Kejujuran dalam keluarga menjadi pondasi penting untuk membangun kepercayaan semua pihak.
Ketiga, Ramadan akan menumbuhkan rasa cinta kasih sayang antar sesame dan cinta kasih dalam keluarga.
Keempat, Ramadan sebagai wahana untuk menumbuhkan kesadaran diri bahwa setiap manusia tidak akan pernah terbebas dari kesalahan, kekurangan dan dosa. Kesadaran ini akan dapat mewujudkan sikap rendah hati, tidak sombong dan tidak melihat kebaikan sendiri.
Problematika keluarga sering terjadi karena pasangan hidup selalu merasa benar, tidak mau kalah, dan ego yang tinggi. Untuk itu ibadah Ramadan akan menjadi sarana setiap insan untuk menyadari berbagai kekurangannya kemudian menumbuhkan semangat memperbaiki diri.
Keharmonisan akan bisa terwujud apabila ibadah Ramadan bukan hanya sebatas ritualitas rutin, formalitas dan tidak memiliki makna, akan tetapi ibadah Ramadan dapat terimplementasi dalam perilaku keseharian.
Dari keluarga yang harmonis akan terwujud bangsa dan negara yang sejahtera, serta terwujud kedamaian dunia. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/wahib-mutiara.jpg)