Berita Jogja Hari Ini

Jumlah Penduduk Miskin di DI Yogyakarta pada September 2022 Turun Sebanyak 10,9 Ribu Orang

Badan Pusat Statistik (BPS) Daerah Istimewa Yogyakarta menyampaikan perkembangan profil kemiskinan atau tingkat kemiskinan di DIY.

Penulis: Neti Istimewa Rukmana | Editor: Kurniatul Hidayah
Tangkapan Layar
Statistik Utama BPS DIY, Sentot Bangun Widoyono menjelaskan mengenai perkembangan profil kemiskinan atau tingkat kemiskinan di DIY selama September 2022 secara virtual, Senin (16/1/2023). 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Badan Pusat Statistik (BPS) Daerah Istimewa Yogyakarta menyampaikan perkembangan profil kemiskinan atau tingkat kemiskinan di DIY.

Statistik Utama BPS DIY, Sentot Bangun Widoyono, berujar, komposisi garis kemiskinan di DIY selama September 2022 berdasarkan hasil Sunsenas September 2022, garis kemiskinan DIY sebesar Rp551.342 per kapita per bulan dan meningkat 4,98 persen dibandingkan kondisi Maret 2022 yang besarnya Rp521.673 per kapita per bulan.

Baca juga: KPU Gunungkidul Akan Mendata Pemilih Pemilu 2024

“Garis kemiskinan total yaitu makanan maupun non makanan dan juga untuk wilayah pedesaan maupun perkotaan yaitu tercatat sebesar Rp521.673 per kapita per bulan,” ujarnya saat jumpa pers secara virtual Senin (16/1/2023).

Garis kemiskinan makanan tercatat sebesar Rp398.363 per kapita per bulan dan garis kemiskinan bukan makanan sebesar Rp152.979 per kapita per bulan.

Pada September 2022, rata-rata rumah tangga miskin di DIY, memiliki anggota rumah tangga sekitar 4,2 orang.

"Jadi, kalau kita berbicara garis kemiskinan, pada umumnya rumah tangga yang pendapatan atau pengeluarannya sekitar atau di bawah Rp2.315.636 per RuTa Miskin, maka dapat dikategorikan sebagai rumah tangga miskin yang kemudian anggotanya terhitung sebagai penduduk miskin," terang Sentot.

Lebih lanjut, disampaikannya, jumlah penduduk miskin pada September 2022 sebanyak 463,63 ribu orang atau mengalami kenaikan 8,9 ribu orang terhadap Maret 2022. Apabila, dibandingkan September 2021, jumlah penduduk miskin September 2022 turun sebanyak 10,9 ribu orang.

"Persentase penduduk miskin perkotaan pada September 2022 sebesar 10,64 persen dan naik 0,08 persen poin dibandingkan Maret 2022. Penduduk miskin perdesaan pada September 2022 sebesar 14,00 persen dan naik 0,35 persen poin dibandingkan Maret 2022," beber dia.

"Jumlah penduduk miskin di perkotaan pada September 2022 sebanyak 321,07 ribu orang, naik sebanyak 5,6 ribu orang dibandingkan Maret 2022. Sementara itu, jumlah penduduk miskin perdesaan pada September 2022 sebanyak 142,57 ribu orang atau mengalami kenaikan 3,3 ribu orang dibandingkan Maret 2022," imbuh Sentot.

Di samping itu, BPS sendiri melakukan penghitungan angka kemiskinan makro berdasarkan kesepakatan internasional dengan pendekatan kebutuhan dasar.

“Untuk mendapatkan garis tersebut tentunya dipengaruhi oleh beberapa faktor atau fenomena yang terjadi di dalam masyarakat pada bulan-bulan yang kami hitung garis kemiskinannya,” ujarnya.

Ia turut menjelaskan beberapa faktor yang mempengaruhi terhadap tingkat kemiskinan selama periode Maret-September 2022.

“Pada September 2022 dapat kita lihat bahwa pertumbuhan ekonomi di DIY pada triwulan III 2022 terhadap triwulanan 2021 itu meningkat lebih cepat dengan peningkatan 5,82 persen year on year (yoy) dibandingkan triwulan pertama atau enam bulan sebelumnya,” urai Sentot.

"Nah, itu tentunya berpengaruh terhadap pola konsumsi. Karena komponen utama dari pada pertumbuhan ekonomi kita masih didorong dengan konsumsi rumah tangga," tambah dia.

Selanjutnya, inflasi selama September 2021-September 2022 meningkat lebih cepat, yaitu 6,81 dibandingkan September 2022 yang hanya 3,87 persen. Peningkatan itu tentunya berpengaruh terhadap pola konsumsi dari pada masyarakat di kota maupun di desa.

Halaman
12
Sumber: Tribun Jogja
Berita Terkait
  • Ikuti kami di
    AA

    Berita Terkini

    © 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved