Berita Kulon Progo

Komisi I DPRD Kulon Progo Siapkan Payung Hukum Antisipasi Dampak Sosial dari Keberadaan YIA

Hadirnya Yogyakarta International Airport (YIA) di Kabupaten Kulon Progo menuai sejumlah permasalahan terutama dampak sosial

Penulis: Sri Cahyani Putri | Editor: Hari Susmayanti
Tribunjogja/Sri Cahyani Putri
Sekretaris Komisi I DPRD Kulon Progo, Maryono (kiri) saat menjadi narasumber dalam podcast yang digelar oleh Tribunjogja dengan tema hadirnya YIA membawa konsekuensi meningkatnya entropi sosial di Kulon Progo, Rabu (24/8/2022). 

TRIBUNJOGJA.COM, KULON PROGO - Hadirnya Yogyakarta International Airport (YIA) di Kabupaten Kulon Progo menuai sejumlah permasalahan terutama dampak sosial. 

Tatanan kehidupan masyarakat bisa berubah seiring perkembangan wilayah yang semakin padat, ramai dan maju. 

Dari kondisi tersebut, dikhawatirkan akan timbul entropi sosial atau gejolak sosial di masyarakat. 

Untuk itu, kalangan legislatif tengah menyiapkan payung hukum.

Sekretaris Komisi I DPRD Kulon Progo, Maryono mengatakan kehadiran YIA menimbulkan kejutan bagi masyarakat setempat. 

Apalagi YIA berkelas internasional. Sehingga tidak hanya melayani wisatawan domestik melainkan mancanegara yang karakteristik budayanya berbeda jauh dengan Kulon Progo. 

Untuk menghadapi perubahan tatanan kehidupan masyarakat, maka seluruh stakeholder harus mempersiapkannya. 

Upayanya, telah dibentuk panitia khusus (pansus) pendidikan karakter yang tengah digodok oleh jajaran legislatif. 

"Ini sebagai upaya dewan sesuai tugas, pokok dan fungsi (tupoksi) menyiapkan payung hukum, ada regulasi yang mengatur perilaku-perilaku yang ada diperkuat dengan karakter jati diri kita. Bukan hanya semacam pidato melainkan action, menyiapkan sebuah peraturan daerah (perda)," terangnya dalam podcast yang digelar Tribunjogja, Rabu (24/8/2022). 

Baca juga: Gelar Razia, Polisi Sita 277 Botol Miras di Galur Kulon Progo

Dengan demikian, perlu sinergi antara eksekutif, legislatif, yudikatif, tokoh masyarakat demi menyiapkan karakter masyarakat Kulon Progo menyongsong hadirnya YIA. 

Sosialisasi dilakukan melalui tingkat pendidikan baik formal dan non formal. Melalui even, para kyai, tokoh ulama agar memberikan edukasi kepada masyarakat. 

Dalam kesempatan itu, ia juga menyinggung beredarnya video pornografi yang diperankan oleh seorang perempuan di YIA sekitar tahun kemarin. Hal ini menjadi sebuah peringatan dari efek hadirnya bandara. 

Kalangan legislatif tidak ingin masyarakatnya menjadi tersingkirkan dengan hadirnya YIA dan menjadikan Kulon Progo sebagai daerah metropolitan ke depannya. 

Dengan demikian, payung hukum tentang hak tanah atau peralihan tanah juga harus dipikirkan.

"Jangan sampai terlena berapapun (tanah yang dimiliki) dijual jika ada yang membeli. Ini menjadi ancaman bagi Kulon Progo. Kalau dijual, 10 tahun mendatang masyarakat asli Kulon Progo tidak ada," ungkapnya. (Tribunjogja)

Sumber: Tribun Jogja
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved