Mbah Slamet Tunggul Arum, Saksi Hidup Letusan Dahsyat Merapi 1930
Mbah Slamet adalah manusia langka. Satu di antara saksi hidup yang tersisa, yang menyaksikan tiga pralaya besar Merapi
Penulis: Setya Krisna Sumargo | Editor: Muhammad Fatoni
Pada Agustus 1871, kubah lava setinggi 250 meter tumbuh di atas Pasar Bubar, kawah Merapi Tua. Puncak kubah lava itu 2.890 mdpl dan terus tumbuh hingga 2.907 mdpl.
”Suara letusan seperti suara meriam terdengar sampai Karawang dan Priangan di barat, serta ke timur hingga Madura dan Pulau Bawean,” tulis Hartmann seperti dikutip dalam laporan perjalanan Ekspedisi Cincin Api.
Andreastuti, peneliti pada Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, pernah menemukan jejak letusan besar yang dikategorikan sub-plinian di Selo, sisi utara Merapi.
Letusan besar dengan kolom letusan mencapai 10 kilometer itu terjadi pada kisaran tahun 765-911 Masehi. Jejak letusan besar itu menghasilkan tepra atau endapan fragmen batu apung di Selo.
Letusan-letusan besar Merapi juga pernah terjadi pada tahun 1822-1823. Letusan ini diawali dengan penghancuran kubah lava dan membentuk kawah berdiameter 600 meter dengan bukaan ke arah Kali Apu, Blongkeng, dan Woro.
Luncuran awan panas itu mengubur delapan desa. ”Gunung diselimuti aliran api,” tulis Kemmerling. Antara tahun 1832 dan 1836, Merapi kembali meletus besar.
Letusan pada tengah malam 25 Desember 1832 itu terjadi tiba-tiba. Aktivitas vulkanik berlangsung hingga pukul 18.35 WIB.
Mbah Slamet adalah manusia langka. Satu di antara saksi hidup yang tersisa, yang menyaksikan tiga pralaya besar Merapi, yaitu letusan 1930, 1961 dan 2010.
Kepala Pedukuhan Tunggul Arum, Kristanto, mengakui tidak ada orang lain di dusunnya yang seusia Mbah Wiyoto alias Mbah Slamet.
“Sepertinya ya begitu, sudah tidak ada lagi yang seusia beliau,” kata Kristanto ditemui di rumahnya, Jumat (6/8/2021) siang.
(Tribunjogja.com/xna)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/mbah-slamet-atau-mbah-wiyoto-96.jpg)