Mbah Slamet Tunggul Arum, Saksi Hidup Letusan Dahsyat Merapi 1930

Mbah Slamet adalah manusia langka. Satu di antara saksi hidup yang tersisa, yang menyaksikan tiga pralaya besar Merapi

Tayang:
Penulis: Setya Krisna Sumargo | Editor: Muhammad Fatoni
Tribun Jogja/ Setya Krisna Sumargo
Mbah Slamet atau Mbah Wiyoto (96), warga Dusun Tunggul Arum, Wonokerto, Turi, Sleman, memegang bodem atau palu besi peninggalan orang tuanya saat jadi romusha pembuatan gua Jepang di Kaliurang. Bodem itu produk era Jepang yang masih disimpannya hingga saat ini. 

Guguran material dan awan panas menghancurkan kawasan sejauh 20 kilometer ke arah barat daya dari puncak.

Ada 13 desa terkubur, menghancurkan 23 desa lain hingga kawasan Mantingan, Kadiluwih. Dusun ini terletak beberapa kilometer di barat jalan raya Yogya-Magelang.

Letusan 1930 ini masuk di daftar erupsi super berindeks VEI 3, sama dengan letusan eksplosif Oktober-November 2010 yang mengarah ke selatan/tenggara.

Sesudah petaka maut 1930, Dusun Tunggul Wulung yang diapit dua sungai besar, bertahan hingga tahun 1960an.

Setelah kembali meletus dahsyat pada 19 Maret 1961, warga Dusun Tunggul Wulung “bedol desa”.

Pemindahan total penduduk dilakukan atas perintah Sri Sultan Hamengku Buwono (HB) IX.

Posisi permukiman itu dianggap sangat berbahaya. Warga Tunggul Wulung lantas mendiami dan bermukim di wilayah yang kini dinamai Tunggul Arum.

Aliran lava pada fase erupsi 1961 diperkirakan mencapai 200.000 meter kubik per hari. Kubah lava tinggal 10 persen setelah terbongkar dan menciptakan 119 luncuran awan panas.

Material vulkanik yang dimuntahkan Merapi diperkirakan mencapai 42 juta meter kubik. Volume ini masih jauh di bawah rekor erupsi 1930 dan 2010.

Visual Gunung Merapi pada Jumat (6/8/2021). Pukul 11.27-11.30 terdengar suara gemuruh tak putus-putus, debu vulkanik membubung vertikal maupun menyamping arah barat. Puncak secara persis tidak teramati karena tertutup awan tebal.
Visual Gunung Merapi pada Jumat (6/8/2021). Pukul 11.27-11.30 terdengar suara gemuruh tak putus-putus, debu vulkanik membubung vertikal maupun menyamping arah barat. Puncak secara persis tidak teramati karena tertutup awan tebal. (TRIBUNJOGJA.COM / Setya Krisna Sumargo)

Letusan Merapi paling dahsyat yang tercatat dalam sejarah modern terjadi pada 15-20 April 1872. Letusan mematikan itu berlangsung selama 120 jam tanpa jeda.

Awan panas dan material jatuhan memusnahkan seluruh permukiman yang berada di ketinggian di atas 1.000 meter di atas permukaan laut (mdpl).

Letusan terjadi sangat mendadak. Material vulkanik yang dilepaskan berupa lava kental, bertekanan gas sedang.

Dapur magma Merapi diyakini saat itu cukup dangkal, mirip Gunung St Vincent di Kepulauan Antilles Kecil, Karibia.

Ahli geologi Kemmerling (1921) dan Hartmann (1934) mencatatnya dalam laporan penelitian, yang dikutip B Voight dkk (2000) dalam Historical Eruptions of Merapi Volcano, Central Java, Indonesia, 1768-1998.

Letusan pertama pada 15 April 1872 tidak diawali gejala peningkatan aktivitas. Letusan berlangsung selama lima hari dan menghancurkan kubah lava yang tumbuh pada 1867-1871.

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 3/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved