Mbah Slamet Tunggul Arum, Saksi Hidup Letusan Dahsyat Merapi 1930

Mbah Slamet adalah manusia langka. Satu di antara saksi hidup yang tersisa, yang menyaksikan tiga pralaya besar Merapi

Tayang:
Penulis: Setya Krisna Sumargo | Editor: Muhammad Fatoni
Tribun Jogja/ Setya Krisna Sumargo
Mbah Slamet atau Mbah Wiyoto (96), warga Dusun Tunggul Arum, Wonokerto, Turi, Sleman, memegang bodem atau palu besi peninggalan orang tuanya saat jadi romusha pembuatan gua Jepang di Kaliurang. Bodem itu produk era Jepang yang masih disimpannya hingga saat ini. 

Ngleler koyo jladren (Mengalir seperti adonan),” lanjut pria yang empat anak dari istrinya pertamanya sudah meninggal semua.

Awan panas guguran Merapi tanggal 8 Agustus 2021 pukul 04.20 WIB
Awan panas guguran Merapi tanggal 8 Agustus 2021 pukul 04.20 WIB (Twitter BPPTKG)

Termasuk juga istri pertamanya sudah mendahului dirinya.

Mbah Slamet punya lima saudara kandung. Semua sudah tidak ada yang hidup. Bahkan sudah berbelas atau puluhan tahun lalu meninggalnya.

Kini Mbah Slamet tinggal bersama istrinya di Dusun Tunggul Arum, tak jauh dari bunker penyelamat bencana.

Ia masih giat berladang dan merawat tanaman di kebunnya di usia mendekati satu abad.

Di benak Mbah Slamet, letusan 1930 itu letusan pertama Merapi.

Niku awal-awale Merapi njebluk (Itu awal saat Merapi meletus),” katanya sembari tersenyum.

Gigi-gigi Mbah Slamet sudah tanggal semua. Kerut-kerut wajahnya menunjukkan ia sosok yang sangat lama ditempa pekerjaan keras di lapangan.

Ketika kejadian itu, para penduduk di Ngori, Gendeng, dan Gentong, semuanya di wilayah Srumbung sekarang, mengungsi ke Tunggul.

Beberapa hari sesudah puncak letusan dahsyat 1930, Mbah Slamet tidak ingat lagi persis waktunya, ia menyaksikan dataran maha luas di seberang Kali Krasak.

“Kali Bathang terkubur. Dusun-dusun di sepanjang lereng barat daya, terkubur, hancur. Tanah mengepulkan asap,” beber Mbah Wiyoto di halaman rumahnya yang sederhana.

“Jurang dalam di sebelah Ngepos, jadi rata. Beberapa tempat malah muncul gundukan-gundukan batu dan pasir,” imbuhnya.

Baca juga: BPBD Kabupaten Magelang Terus Pantau Kebakaran Vegetasi di Lereng Gunung Merapi

Baca juga: BPPTKG Imbau Warga Tak Lakukan Kegiatan Apapun di Daerah Potensi Bahaya Gunung Merapi

Bathang menurut Mbah Slamet lenyap tak bersisa.

Letusan 1930 menurut data sejarah kegunungapian, merenggut sekurangnya 1.400 nyawa penduduk. Indonesia saat itu belum lahir.

Pemerintah kolonial Belanda yang berkuasa.

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 2/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved