Breaking News:

Mbah Slamet Tunggul Arum, Saksi Hidup Letusan Dahsyat Merapi 1930

Mbah Slamet adalah manusia langka. Satu di antara saksi hidup yang tersisa, yang menyaksikan tiga pralaya besar Merapi

Tribun Jogja/ Setya Krisna Sumargo
Mbah Slamet atau Mbah Wiyoto (96), warga Dusun Tunggul Arum, Wonokerto, Turi, Sleman, memegang bodem atau palu besi peninggalan orang tuanya saat jadi romusha pembuatan gua Jepang di Kaliurang. Bodem itu produk era Jepang yang masih disimpannya hingga saat ini. 

TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN – Hari-hari ini Gunung Merapi memperlihatkan aktivitas vulkanik yang sangat signifikan, berdasarkan data Balai Penyelidikan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Yogyakarta.

Sepanjang Minggu (8/8/2021) dini hari hingga jelang siang saja, sudah terjadi 6 kali guguran disertai awan panas.

Jarak luncur terjauh 3.000 meter ke arah hulu Kali Bebeng di sektor barat daya.

Debu vulkanik membubung tertiup angin ke arah barat. Hujan abu tipis dilaporkan terjadi di sekitar Mertoyudan dan Kota Magelang di sektor barat gunung.

Rentetan peristiwa hari-hari ini mengembalikan ingatan Mbah Slamet atau Mbah Wiyoto ke kejadian 91 tahun lampau.

“Ini belum seberapa,” kata Mbah Wiyoto kepada Tribunjogja.com, Jumat (6/8/2021).

Baca juga: BREAKING NEWS : Hujan Abu Tipis Gunung Merapi Terjadi di 6 Titik Lokasi

Baca juga: Minggu Pagi Ini Gunung Merapi Luncurkan 5 Kali Awan Panas Guguran, Jarak Luncur Maksimum 3 Km

Pria berusia 96 tahun yang masih tangkas mencangkul dan memanjat pohon ini namanya hanya Slamet atau Wiyoto saja. Tidak ada embel-embel nama depan atau belakang.

“Slamet itu nama kecil. Wiyoto nama sekarang, nama tua,” imbuh Mbah Slamet dalam bahasa Jawa yang sangat kental dialeknya.

Siapa Mbah Slamet? Dia warga Dusun Tunggul Arum, Desa Wonokerto, Kapenewon Turi, Sleman, DIY.

Kapan ia dilahirkan, tidak ingat lagi.

Halaman
1234
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved