Pemuda Tewas Dikeroyok

Lanjutan Kasus Pengeroyokan di Wirobrajan, Pengejaran Masih Nihil

Kepolisian masih melakukan pengejaran pelaku pengeroyokan yang menewaskan DW (22) warga Gedungkiwo, Mantrijeron, Kota Yogyakarta

Penulis: Tribun Jogja | Editor: Iwan Al Khasni
TRIBUNJOGJA.COM/ Miftahul Huda
Lokasi korban berinisial DW terkapar seusai dikeoyok oleh sejumlah orang, Kamis (3/6/2021) 

“Rumah saya diketuk seseorang sekitar jam 02.00 dini hari tadi. Orang itu mencari kakaknya DW. Terus saya keluar dan saya dengarkan apa saja percakapan mereka,” bukanya kepada Tribun Jogja di kediaman sebelum kedatangan jenazah DW.

Dini hari yang dingin, banyak teman DW berkumpul di depan rumah. Mereka cukup berisik membicarakan tentang DW yang menjadi korban pengeroyokan.

Tidak disangka, ketukan tersebut adalah pertanda bahwa DW telah tiada. Dia telah meninggal dunia di Jalan Ki Amri Yahya, dikeroyok sejumlah orang tidak dikenal.

Hati Suparjiman miris mendengarnya. Dia bisa menahan tangis, meski tidak kuasa menitikkan air dari mata.

"Saya dengarkan saja itu pembicaraan mereka. Ternyata ada kejadian pengeroyokan," ujarnya lirih.

Kakak DW nomor dua pun bergegas ke RS Bhayangkara, memastikan kondisi sang adik yang telah menghembuskan nafas terakhir.

Suparjiman dan istri, serta anak pertamanya memilih di rumah yang terletak di Jalan Bantul, Gang Windudipura, Gedongkiwo, Mantrijeron, Kota Yogyakarta.

Mereka menunggu kabar dari anak kedua mengenai kondisi DW.

Selama berbincang dengan Tribun Jogja, pikiran Suparjiman tampak kosong.

Matanya yang memandang jauh kemudian menatap ke tanah. Dia terlihat masih belum lega jika belum melihat jenazah si anak.

Tamu-tamu berdatangan tak henti-henti sejak pukul 10.00 WIB pagi. Sebagian dari mereka adalah teman main DW dan adapula warga sekitar yang turut prihatin dengan kepergian pemuda itu.

Mereka memadati gang menuju rumah DW, menunggu kedatangan jenazah sahabat mereka yang ternyata baru bisa diantar kembali ke keluarga pukul 15.45 WIB.

Para tamu itu juga menyempatkan menemui Suparjiman, mengucapkan bela sungkawa sedalam-dalamnya. Mereka memahami, pasti orang tua DW merasa terpukul dengan kepergian mendadaknya.

DW, anak bungsu Suparjiman kelahiran 1999 itu memang tidak pamit ketika ia pergi menjelang tengah malam.

Padahal, Suparjiman selalu berpesan kepada DW agar tidak tidur terlalu larut lantaran masih harus bekerja di pagi hari.

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved