Fenomena Sosial Manusia Silver di Jogja
Pengakuan Manusia Silver di Yogya, Cari Rezeki di Masa Pandemi hingga Kejar-kejaran dengan Petugas
Mereka rela melumuri tubuhnya dengan cat khusus berwarna silver, kemudian mencoba menghibur pengendara yang berhenti di persimpangan jalan
Penulis: Miftahul Huda | Editor: Muhammad Fatoni
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Fenomena manusia silver kian marak ditemui di sejumlah sudut di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).
Banyak dari para manusia silver tersebut sebelumnya merupakan pengamen jalanan dan ada pula yang mengaku mantan karyawan swasta yang terkena pengurangan karyawan atau PHK, lalu memilih mengais rejeki sebagai manusia silver.
Para manusia silver tersebut biasanya beraktivitas sejak pukul 12.30 WIB hingga sore hari sekitar pukul 15.00 WIB.
Mereka rela melumuri tubuhnya dengan cat khusus berwarna silver, kemudian mencoba menghibur pengendara yang berhenti di persimpangan jalan supaya mendapat sepeser uang.
Baca juga: Kisah Pilu Gadis Muda di Pekalongan, Dihamili Oknum Kades, Dipukuli hingga Diancam akan Disantet
Baca juga: Kisah Kakek 74 Tahun yang Telah Makamkan Ratusan Jenazah Covid-19, Tapi Belum Dapat Jatah Divaksin
Tribunjogja.com pun coba menelusuri ke beberapa manusia silver untuk mendapatkan cerita di balik fenomena tersebut.
Salah seorang manusia silver bernama Deni Maulana, mengatakan, sebelum mencari uang dengan menjadi manusia silver, ia terlebih dahulu mengamen di beberapa persimpangan jalan wilayah DIY.
Ia juga pernah menjadi pengamen boneka di beberapa tempat, di antaranya simpang empat Kentungan, simpang empat Jalan Magelang dan tempat lainnya.
Deni memilih menjadi manusia silver lantaran menurutnya modal untuk menghibur orang di jalan tersebut terbilang murah.
Dirinya hanya perlu mengeluarkan uang sebesar Rp9.000 untuk membeli cat besi atau cat kayu warna silver yang digunakan sebagai pemikat perhatian pengendara selama menjadi manusia Silver.
"Murah kalau manusia silver modalnya. Cuma cat besi atau kayu, harganya Rp9.000 bisa buat dua orang," katanya, saat ditemui Tribunjogja.com, Rabu (24/3/2021).
Cat yang digunakan untuk melumuri tubuhnya jelas tidak layak jika dipakai pada kulit manusia.
Akan tetapi hal itu ia lakukan lantaran saat ini mencari pekerjaan di tengah pandemi COVID-19 diakui olehnya sangatlah susah.
"Ya bagaimana lagi, ini urusan perut kok," singkat dia.

Supaya mudah dibersihkan, ia mencampur cat besi warna silver tersebut dengan minyak goreng.
"Jadi biar aman dan mudah dibersihkan ya saya campuri dengan minyak goreng. Perbandingannya satu banding satu. Itu untuk cat ukuran kaleng kecil," jelas Deni.