Breaking News:

Pengungsi Gunung Merapi di Klaten Masih Bertahan di Tempat Evakuasi Sementara

Sejumlah pengungsi yang terdiri dari ibu-ibu dan anak-anak masih tampak menghuni bilik-bilik yang disediakan oleh pemerintah di TES tersebut

Penulis: Almurfi Syofyan
Editor: Muhammad Fatoni
Tribun Jogja/ Almurfi Syofyan
Seorang pengungsi Gunung Merapi di Desa Balerante, Klaten, Surono, makan siang di dapur umum barak pengungsian desa tersebut, Senin (18/1/2021). 

TRIBUNJOGJA.COM, KLATEN - Pengungsi Gunung Merapi yang berada di Desa Balerante, Kabupaten Klaten masih bertahan di tempat evakuasi sementara (TES), meski berubahnya arah potensi luncuran lava pijar dan guguran awan panas.

Sejumlah pengungsi Gunung Merapi yang berada di TES Desa Balerante tersebut mengaku jika dirinya memilih bertahan lantaran belum adanya instruksi dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Klaten untuk meninggalkan TES tersebut.

Pantauan Tribun Jogja di TES tersebut pada Senin (18/1/2021) sekitar pukul 13.30 WIB, sejumlah pengungsi yang terdiri dari ibu-ibu dan anak-anak masih tampak menghuni bilik-bilik yang disediakan oleh pemerintah di TES tersebut.

Baca juga: Damkar Klaten Kembali Evakuasi Ular Kobra di Pemukiman Warga, Petugas Butuh Waktu Satu Jam

Baca juga: Bupati Klaten Sri Mulyani Keluarkan SE Baru, Jam Operasional Pedagang Kuliner Sampai Pukul 21.00 WIB

Sebagian pengungsi lainnya memilih untuk ke ladang dan juga mencari rumput untuk pakan ternak yang dititipkan di tempat evakuasi hewan ternak di desa tersebut.

"Saya masih bertahan disini karena memang belum ada instruksi dari Pemkab Klaten untuk meninggalkan barak pengungsian," ujar Yanto (50) warga Dukuh Sukorejo, Desa Balerante saat ditemui di TES desa tersebut.

Ayah dua anak itu memilih untuk tetap bertahan di pengungsian karena memikirkan keselamatan dirinya dan keluarganya.

"Kalau rumah saya dari puncak merapi sekitar 3 kilo, kalau pulang ke rumah nanti tiba-tiba ada peningkatan aktivitas, kita kan tidak tahu meski informasinya arah potensi luncuran lava tidak kesini, tapi kan kita harus tetap waspada," jelasnya.

Ia mengatakan selama 2 bulan berada di pengungsian, dirinya hanya sempat menengok rumahnya saat siang hari saja.

Ketika sore hingga subuh dirinya dan keluar tidur di TES desa tersebut.

"Kalau dibilang jenuh memang pasti ada merasakan jenuh, namun sekarang ini kita harus tetap waspada, pulang ke rumah saat siang hari saja untuk bersih-bersih. Lalu kembali kesini," imbuhnya.

Halaman
12
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved