Breaking News:

Pakar UGM Ingatkan Durasi Tinggal di Pengungsian Berpengaruh Pada Resiliensi Warga

Pengajar Geofisika FMIPA UGM, Ade Anggraini menyebut, terdapat keuntungan dari dua ancaman bahaya ini, yakni keduanya didahului oleh pertanda

Penulis: Maruti Asmaul Husna | Editor: Kurniatul Hidayah
Tribunjogja/ Rendika Ferri K
Warga pengungsi dari desa rawan Merapi menempati bilik-bilik di tempat pengungsian Tempat Evakuasi Akhir (TEA) Banyurojo, Desa Banyurojo, Kecamatan Mertoyudan, Kabupaten Magelang, Selasa (10/11/2020). 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Maruti Asmaul Husna

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Hingga saat ini sekitar lebih dari 1.200 warga lereng Merapi telah dievakuasi di barak pengungsian di Kabupaten Sleman, Boyolali, Klaten, dan Magelang. 

Pemerintah daerah setempat mengantisipasi dua ancaman sekaligus yang mungkin terjadi di barak pengungsian, yaitu erupsi Gunung Merapi sendiri dan pandemi Covid-19. 

Pengajar Geofisika FMIPA UGM, Ade Anggraini menyebut, terdapat keuntungan dari dua ancaman bahaya ini, yakni keduanya didahului oleh pertanda.

"Keuntungan dari bencana Merapi dan pandemi ini keduanya didahului oleh pertanda. Kita manusia memiliki waktu agar kejadian alam tersebut nantinya tidak memberikan dampak yang fatal pada kehidupan manusia," ujar Ade dalam diskusi daring di kanal YouTube sonjo jogja, Minggu (15/11/2020). 

Baca juga: Kadin DIY : Pesanan Ekspor di DI Yogyakarta Membludak Saat Ini

Baca juga: Wisata Air di Klaten Hampir Sebulan Beroperasi, Disbudparpora akan Agendakan Swab Test Kembali

Baca juga: Atlet Panjat Tebing DIY Lolos ke Pelatnas Junior 2020

Di samping itu, Ade melanjutkan, masih banyak ketidakpastian kondisi yang harus dihadapi.

Hal ini perlu dipertimbangkan karena akan memengaruhi resiliensi atau ketahanan warga pengungsi ke depan. 

"Kita tidak tahu erupsi terjadi kapan. Perkiraannya tidak akan menyamai erupsi 2010, tetapi lebih besar daripada 2006. Ini (lebih besar) di bagian mana," ucapnya. 

"Lalu kapan terjadinya, durasi kejadian berapa lama, ini masih ada ketidakpastian. Ini memengaruhi resiliensi atau ketahanan dari masyarakat," sambungnya. 

Pada 2006, Ade mencontohkan, warga cukup lama mengungsi karena erupsi ditunggu-tunggu tidak kunjung datang.

Halaman
12
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved