Cerita dari Pelaku Becak Motor Malioboro, Mulai dari Sepi Pelanggan Hingga Menunggak Sewa
Meski geliat pariwisata di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) mulai muncul, namun dampak ramainya wisatawan belum dirasakan
Penulis: Miftahul Huda | Editor: Kurniatul Hidayah
Sedikit para wisatawan yang bersedia memakai jasa antar jemput menggunakan kendaraan roda tiga yang dimodifikasi tersebut.
"Hanya jalan-jalan saja, jarang yang mau pakai becak. Jadi ya tidak pasti meski ada libur panjang," ungkapnya.
Pria asal Kecamatan Wonosari, Kabupaten Gunungkidul ini mengaku kesulitan dalam mendapatkan penumpang.
Di masa sekarang ini, pendapatannya sangat tidak menentu.
Sementara ia kini harus menghidupi keluarganya di rumah.
"Anak saya dua. Ya Alhamdulillah masih sekolah semua," urainya.
Selain menghidupi keluarga, Agus juga harus memberi uang sewa kepada pemilik bentor yang ia gunakan.
Untuk satu harinya, ia dikenakan tarif Rp 20 ribu.
Baca juga: Bantu Pengusaha Kecil, PLN Beri Keringanan Tagihan Listrik di Tengah Pandemi Covid-19
Baca juga: Jumlah KPPS Sleman Sudah Terpenuhi
Baca juga: Kontak dengan Suspek, 3 Warga Playen Gunungkidul Positif Covid-19
Saat ini Agus masih menunggak selama satu minggu lantaran beberapa hari kemarin sepi penumpang.
"Bentor ini saya sewa, seharinya Rp 20 ribu. Sekarang saja saya nunggak satu minggu. Ya karena sepi, seringnya tombok untuk beli bensin," ujarnya.
Biasanya, Agus selalu membawa penumpangnya ke beberapa tempat wisata dalam kota.
Selain itu seringnya ia mengantar wisatawan ke pusat pembuatan bakpia atau ke penginapan.
Terdapat sekitar 300 penyedia bentor di kawasan Malioboro.
Menurutnya, mereka tersebar di beberapa titik.
Mulai di sekitaran perlintasan Kereta Api, depan DPRD DIY, Ramayana, hingga di Beringharjo.